Wednesday, December 25

Stand - Britt Nicole lyric

I wake up to another day
I don't know if I can face
All the fears (that are) staring me down
Yeah, I'm trying to be brave
But I'm a thread, about to fray
I wanna stand but I don't know how
I look up and all I see is Your love holding me
When I feel like giving up
When my heart is hurt too much
Feels like I've reached the end
No, I won't turn and run
This battle will be won
When I've done all I can
I stand stand stand
I stand stand stand
Some days I lose my place
It's a fight to keep my faith
But You are with me, I am not alone, no
But all around my world gives way
Toss like an ocean wave
You are my rock and the storm clouds blow
I look up and all I see is Your love holding me
When I feel like giving up
When my heart is hurt too much
Feels like I've reached the end
No, I won't turn and run
This battle will be won
When I've done all I can
I stand stand stand
I stand stand stand
On Your promise, I will stand
All other ground is sinking sand
On Your promise, I will stand
All other ground is sinking sand
Sinking sand oh who woooh
It's sinking sinking, yea yeah
When I feel like giving up
When my heart is hurt too much
Feels like I've reached the end
No, I won't turn and run
This battle will be won, yea yeah
So I'll stand stand stand
I stand stand
I'll stand stand stand

Thursday, December 19

2013 REMINISCENCE

Hi folks....
It has been quite long since the last time I wrote something here...
I've been extremely busy lately.
Yeah, being a senior student is not as easy as we used to imagine back when we were all just freshmen students at high school.
You might probably wonder what makes I decided to use "2013 REMINISCENCE" as my current post's tittle. Haha I actually had my own reasons and explanations but it seems like I don't want to write this post in English. I just thought if it will be more appropriate for me if  I write it in Bahasa...

Jadi, yah sesuai judulnya, postinganku kali ini memang bertujuan untuk mengenang 2013, tahun paling unpredictable yang pernah aku lalui seumur hidupku. Terlalu banyak hal-hal unik yang aku alami ditahun ini. Di tahun ini juga akhirnya aku merasakan suka duka jadi anak 17 tahun...
Sebenarnya, aku sudah belajar banyak sekali hal ditahun ini. Aku belajar kalau umur memang akan selalu bertambah, tapi kalau kita mau memasuki fase kedewasaan dan disebut dewasa memang butuh proses yang bisa dibilang sama sekali tidak mudah.
Aku juga bertemu banyak sekali orang, teman or anyway you wanted to call them yang datang dan pergi bahkan tetap tinggal dalam ceritaku hingga saat ini.
Terimakasih ya atas semua memorinya...

Pada awal tahun ini, aku ingat betul awalnya aku sedikit panik dan heboh (well bisa dibilang rada norak sih) karena kalau seorang perempuan sudah menginjak umur 17 tahun kan identik dengan semua yang bisa dibilang "perfection" (perhaps).. Aku ingat aku memulai semester empat di SMA bersama dengan teman-teman yang saat itu juga dekat denganku. Aku juga sama sekali tidak menyangka kalau pada saat aku ulang tahun, teman-teman dekatku akan memberikan a little birthday surprise... It actually felt unpredictably precious. Siapa sih yang tidak senang kalau teman-temannya mengingat ulang tahunnya? Thanks for it, loves!

Ditahun ini juga, akhirnya (Puji Tuhan banget) aku bisa buka mata dan belajar juga gimana caranya pilih teman yang baik. Karena ternyata nggak semua orang yang biasanya dekat dengan kita itu memang bisa dan pantas untuk dipercaya. Mereka yang biasanya terlihat cuek maupun tidak peduli pada keberadaan kita juga bukan berarti mereka tidak peduli sama kita. Malah ternyata, mereka yang cuek bebek, rada nyolot dan nyebelin ternyata lebih peka, lebih peduli dan lebih tulus serta lebih menyayangi dan lebih bisa menerima kita apa adanya daripada mereka yang setiap hari selalu disamping kita, mendengarkan cerita or whatever we like to do to complete our daily activities. Terimakasih buat semua yang ditahun ini mungkin pernah menyakitiku, pernah berusaha menghancurkanku dan mungkin sampai sekarang masih sering melakukan apapun hanya kamu dan Tuhan yang tahu untuk menjatuhkanku. Terimakasih karena usaha kalian itu yang akhirnya buat aku jadi lebih kuat, jadi tidak gampang meneteskan air mata dan aku semakin mahir memilah-milah orang yang masuk kedalam hidupku serta yang bisa kupanggil teman. Banyak terimakasih juga buat kalian yang saat ini masih tinggal dan mau jadi temanku, sahabatku, bahkan kakakku yang sudah kuanggap layaknya saudaraku sendiri. YOU ROCK GUYS, NOTHING COMPARES YOUR AMAZING AWESOMENESS!!

Uniknya lagi, ternyata pada tahun 2013 ini Tuhan juga mengizinkan aku merasakan ya beberapa hal yang berbau romance haha. Walaupun memang sepanjang tahun ini bahkan sampai saat aku mengetik tulisanku kali ini aku masih nyaman berstatus single, tapi harus diakui, di tahun ini akhirnya aku (dengan cara yang sama sekali tidak pernah kubayangkan maupun kupikirkan (it truly was completely and awkwardly unpredictable) disadarkan kalau selama ini aku benar-benar salah total kalau aku masig menutup diri and tend to shut people out. Malah bisa dibilang, di tahun ini lumayan banyak kejadian berbau romance yang realistis dan bisa buat aku akhirnya sadar kalau aku masih punya hati, aku masih bisa peka dan buat aku sadar juga, seberapa besarpun usahaku menghindari segala perkara hati, ujungnya aku akan merasakan itu juga.

Ditambah lagi semua hal berbau sekolah maupun karir yang sudah aku alami. Aku juga mengalami banyak sekali peningkatan tahun ini. Aku jadi berani berkomentar dipublik, berani ikut kompetisi lagi, padahal bisa dibilang aku sempat trauma pada kompetisi. But I had so much fun at DBL Jakarta. Aku benar-benar merasakan sedikit demi sedikit telah banyak yang berubah dalam diriku, cara pandang dan mindsetku juga...

Jadi, pada kesempatan kali ini, dalam tulisanku sekarang, aku mau mengucapkan banyak sekali terimakasih buat semua orang yg bisa buat aku tersenyum ditahun ini.
Buat papa, mama, kefas, Aunt Nesha, Aunt Melly, Aunt Erri, Aunt Tatia, semua teman-teman sekelasku di IPA, XI IPA 2 dan XII IPA 2, teman-temanku di DBL kemarin, lexsychopaths, teman-teman di GPU, keluarga induk semang di Candirejo, bu Lilis, bu Woro, bu Jane, bu Yuti, bu Vera, pak Sopar, pak Es, pak Widi, bu Romana, pak Bram dan semua guru keren lain. Thanks juga buat Endi, Rei, Dimas, Candra, Mario, Abed, Ary, Casper (a.k.a Jasver), Nisha, Amel, Aileen, Yohana, Citra, Angel, Ribka, Michelle, Ang dan semuanya lah yang tabah banget menghadapi kegilaanku.
The last but not least, THANKS SO MUCH GOD FOR GIVING ME THESE PRECIOUS MEMORIES AND AMAZING PEOPLE!!!!

Semoga semuanya bisa lanjut sampai selamanya..

Lots of love,
Steph

Tuesday, August 13

Everything Has Changed

Hai semua...
Apa kabar?
Hmm mungkin agak terkesan basi sih kata-kataku barusan itu dan sedikit out of topic kalau masih mau sapa menyapa haha..

Well, sebenarnya alasanku buat post ini juga patut dipertanyakan. Mungkin aku lagi error atau korslet pas ngetik post ini tapi I must admit, I do feel the urge to type this post..

Sesuai judulnya dan sesuai post sebelumnya yang berbau "everything has changed" ini lah yang mungkin telah menjadi inti dari postku sekarang...

Pernah nggak sih kalian berada diposisi ketika entah mengapa ada orang atau hal lain yang dulu mungkin dekat sama kamu, selalu melengkapi kamu baik sengaja maupun tidak sengaja. Selalu bisa membuatmu penasaran atau tertarik, jadi secara tidak langsung hal itu memberimu semangat untuk bertahan?

Hmm, aku nggak tahu kamu akan baca tulisanku ini atau nggak, atau mungkin selamanya tulisan ini cuma akan menjadi cuplikan atas diary gila yang memendam rasa yang tak pernah bisa tersalurkan..

Kalau boleh jujur, pertama-tama terimakasih karena dulu, dua tahun yang lalu kamu dan semua ulahmu yang menyebutku pendek, childish dan semua ledekanmu itu tanpa kusadari telah membuatku bangkit dan belajar kalau tidak ada gunanya menyesalkan masa lalu.
Terimakasih karena pernah dengan sabar dan tabahnya mendengarkan curhatanku, mendengarkan keluh kesah penuturanku yang saat itu masih takut membuka diri pada masalah hati dan persahabatan.
Terimakasih atas wishesmu yang polos mengatakan kalau kamu menginginkanku bisa tambah tinggi dan lebih dewasa. Well, it took time, aku butuh waktu dan aku sudah memanfaatkan waktu dua tahun untuk belajar serta bodohnya aku, aku juga butuh dua tahun untuk menyadari semua kebaikanmu dan perasaanku padamu,
Kalau mereka bilang cinta bisa tumbuh karena terbiasa, mungkin iya. Dibalik semua percakapan singkat yang terlalu singkat, sapaan-sapaan garing yang dulu terlontar dari bibir kita, serta semua yang sudah lewat, semua hal itu menguatkan rasa didalam diriku ini..
Lagi-lagi kuakui kalau mungkin sekarang memang telat untuk mengakui perasaan ini, karena waktu yang kita punya tidak begitu banyak. Sebentar lagi mungkin kita akan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dunia perkuliahan telah menyambut kita.
Kamu dan duniamu. Aku dan duniaku.
Selamat berjuang kamu yang disana, tetap menjadi yang terbaik. Aku sayang kamu yang dingin, kamu yang hanya bisa bercanda pada orang-orang tertentu, kamu yang selalu menatapku dengan tatapan super dingin yang selalu sukses membuatku merinding, kamu yang sebenarnya kalau tersenyum memang manis dan tetap misterius, kamu yang dulu selalu kupanggil papi karena kamu selalu mengingatkanku pada papaku dan hanya tersenyum menanggapi ulahku, kamu yang kini selalu sibuk dengan buku-buku dan deretan games yang jujur aku tidak pernah paham, kamu yang sepertinya sekarang anti membalas chat/sms dariku, tidak seperti dulu..
Aku kangen kamu yang dulu selalu minta kubantu mengerjakan tugas prakarya, kamu yang pernah akhirnya pasrah dengan pertanyaanku dan hanya mengatakan "how should I know, why can't you just be quiet for a moment?" tapi langsung tertawa setelahnya. Aku kangen kamu yang rela meminjamkan catatan matematikamu dan buku entah catatan rumus apapun itu serta dengan sabar menemaniku mengerjakan latihan fisika dikelas. Aku kangen sikapmu yang pernah mengantarku dan dua temanku pulang setelah kita selesai misa, kamu yang pernah menggenggam tanganku saat membantuku menapaki sungai, kamu yang rela jaketnya dipinjamkan secara tidak sengaja kotor karena ulahku. Padahal aku tahu kok, aku tahu kamu butuh jaket itu. Terimakasih buat semuanya. Terimakasih buat semua memori dan kenangan yang kamu berikan. Aku akui, aku kangen kamu yang dulu, bukan kamu yang sekarang semakin sibuk dengan game, buku dan headphone. Aku kangen kamu.

Tapi mungkin, ya, everything has changed... Ini waktunya untuk kita sama-sama menyongsong kedewasaan, menyiapkan diri untuk perpisahan kelak.
Sekali lagi, selamat berusaha ya, kamu.
Disini aku mendukungmu, selalu. Semoga deretan impianmu yang pernah kamu bilang ke aku itu menjadi kenyataan.. Semoga kamu bisa jadi dokter spesialis terbaik yang pernah aku kenal.
Jangan lupa tingkatkan juga hubungan koneksi dan relasimu, ya! :)

With love,
Steph

Everything Has Changed - Lyrics

"Everything Has Changed"
(duet with Ed Sheeran)
[Taylor Swift]
All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something
now I didn't before.
And all I've seen since eighteen hours ago
Is green eyes and freckles in your smile
In the back of my mind making me feel right
[Taylor Swift]
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
[Both]
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you
[Both]
'Cause all I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has
changed
[Ed Sheeran]
And all my walls stood tall painted blue
And I'll take them down, take them down and
open up the door for you
[Taylor Swift]
And all I feel in my stomach is butterflies
The beautiful kind, making up for lost time,
Taking flight, making me feel right
[Both]
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you
[Both]
'Cause all I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
And you'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has
changed
Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you all this time,
oh, oh, oh.
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind.
[Taylor Swift]
I just wanna know you better, know you
better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you
[Both]
All I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has
changed
[Taylor Swift]
All I know is we said, "Hello."
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain and everything has
changed
All I know is a new found grace
All my days I'll know your face
All I know since yesterday is everything has
changed

Tuesday, June 25

Heartless?!

Hi guys....
Pasti pada penasaran kan kenapa aku tiba-tiba muncul lagi dan sekalinya muncul langsung buat postingan yang mungkin berbau galau atau some kind like that disini??

Hmm, sebenarnya aku lagi nggak galau sih... Cuma habis disadarkan akan suatu hal penting saja...

Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya patah hati.
Baik itu patah hati dalam hubungan internal keluarga, hubungan antara dua pihak perempuan dan laki-laki maupun hubungan persahabatan.
Semua orang pasti pernah dikecewakan, dikhianati dan dianggap mungkin hanya sebatas pelarian atau pelampiasan....
Klise, semua orang pasti pernah merasakan suatu kondisi dimana dia harus "jatuh".
Hanya saja, tidak banyak orang yang sanggup bangkit dan menepis semua duka maupun dendam akibat rasa sakit hati itu.
Lebih banyak orang memutuskan untuk melanjutkan hidup tapi sambil menutup hatinya juga karena dia begitu takut akan semua resiko yang mungkin akan diterima olehnya. Simpelnya, dia memutuskan untuk heartless karena masih dihantui oleh trauma masa lalu... Aku pun pernah ada didalam fase itu.

Bisa dibilang mungkin bodoh atau malah aku pernah jadi pengecut yang bertahan pada kenangan masa lalu, kenangan semu terhadap seseorang maupun beberapa pihak yang mungkin pernah ada didalam kisah hidupku. Pihak yang dulu aku pikir merupakan pihak yang baik namun kenyataannya tidak sama sekali. Karena adanya sedikit harapan jikalau mungkin semuanya masih bisa kembali seperti dulu.
Karena harapan semu itulah aku sadar kalau aku pernah membangun dinding tebal untuk proteksi diri. Karena itulah selama beberapa belas bulan terakhir, jauh didalam diriku aku pernah menjadi pribadi yang takut akan komitmen, takut mempercayai orang lain, aku menjadi seseorang heartless.

Hingga akhirnya, sebuah statement menyadarkanku kalau selama ini tindakanku salah total.

"Terus, cuma karena elo heartless, hidup lo bisa jadi lebih bahagia? Bukannya kebalikan? Bukannya lo malah jadi menyia-nyiakan semua momen yang sedang berlalu sekarang ini? Lo relain semua kebahagiaan lo demi orang-orang yang nggak tahu gimana caranya menghargai elo? Buat orang yang nggak tahu seberapa besar dampak yang sudah lo berikan bagi mereka? Buat mereka yang masih mengekang elo secara nggak langsung dan buat lo sekarang terjebak dalam masa lalu sehingga elo nggak bisa freely live your life?"

Aku ingat aku termenung sejenak saat orang itu menanyakan kalimat tersebut padaku.

"Semua yang sudah berlalu dan pergi dari kehidupan kita itu bukan pergi tanpa alasan. Semua kata-kata, cacian, hinaan, sindiran dari orang-orang yang tidak memahami caranya berterimakasih dan bersyukur pasti ada hitungannya sendiri yang dihitung oleh Tuhan. Semua yang nggak ada lagi dalam kehidupan kita dimasa kini itu bukan tanpa alasan, tapi jelas, Tuhan nggak pernah mengizinkan semuanya ada dalam cerita lo sekarang. Kalau dimasa lalu aja mereka nggak bisa memahami elo, gimana masa sekarang, gimana masa depan? Yang ada elo cuma akan semakin dimaanfaatkan oleh pihak-pihak seperti itu."

Aku masih diam saat itu. Benar memang perkataannya. Selama ini aku salah total telah menutup diri. Aku salah total sampai menakuti komitmen. Aku salah total karena semuanya.
Seharusnya aku sama sekali tidak bertindak sebodoh itu. Seharusnya aku bangkit, bukannya terpuruk sebegitu parah dan hanya membuka diri pada beberapa orang.

Seharusnya aku bisa menunjukkan pada mereka yang pernah menyakitiku kalau hidupku memang sudah sangat jauh lebih baik sekarang karena Tuhan memberkatiku penuh dengan orang-orang yang setia dan tulus menyayangiku serta menerimaku apa adanya. Aku bisa hidup. I survived dan akhirnya aku bahkan bisa menjalani kehidupan serta dunia persahabatan, ikatan kekeluargaan dan mungkin a little romance yang lebih berbobot.

"Kalau Tuhan mengambil sesuatu dari lo, Tuhan juga yang pasti akan memberikan pengganti yang lebih layak. Bukan berarti status mereka pengganti, bisa jadi malah masa lalu lo itu yang sebenarnya hanya angin lalu, debu yang iseng nempel disana-sini. Debu yang alur kehidupannya nggak pernah konsisten"

Akhirnya aku tersenyum menanggapi perkataannya.
Aku sadar kalau aku harus berubah. Aku harus membuka hati. Membuka diri. Mensyukuri dan menghargai semua yang telah aku miliki saat ini dengan penuh cinta. Karena merekalah yang memang ditakdirkan untuk ada buatku hingga saat ini dan mungkin, selamanya.

"Thank you, ya!" seruku sambil tersenyum bahagia dan menatap mereka satu persatu

"Jangan berhenti percaya. Jatuh itu hal yang wajar. Gagal juga hal yang normal. Tapi semuanya tinggal masalah waktu. Pada waktu yang tepat yang sudah Tuhan sediakan, lo pasti akan dipertemukan dengan sahabat-sahabat sejati lo. Dengan cinta sejati lo juga!"

"Secara nggak langsung, gue aja bisa lihat kenapa dalam kehidupan lo sekarang sudah tidak ada orang-orang yang dulu menyakiti elo. Karena kalau anggapannya elo itu gadget, Lo itu limited edition, OS lo jauh lebih tinggi, lo lebih valuable dan harga jual lo pasti lebih tinggi juga. Lo kuat dan lo berharga. Makanya Tuhan mau lo juga dikelilingi sama orang-orang yang berharga juga"

....................



Intinya buat kamu semua yang mungkin sekarang masih menutup diri rapat-rapat karena segelintir hal dari masa lalu, stop wasting your time, you only live once.. Heartless cuma karena masa lalu itu sama sekali nggak berguna. Kamu yang rugi dan malah mereka yang sudah menyakiti kamu yang untung karena dimata mereka kamu lah yang terlihat lemah. Noooooo, I believe you're stronger than that. You're always stronger than you thought you were. Jangan lagi sia-siakan kehidupan kamu buat mereka yang sekarang mungkin sibuk sama dunia mereka sendiri... You're worth more than what they've done to you, you've been prepared to receive more...

God sees, God hears, God knows what you deserve...




Love,
Steph!


Saturday, May 11

Parents!

THIS VIDEO DESERVES MORE VIEWS!!!!! OHMYGOSH!!!!


may endless blessings fall down to every parents in this world every day, every second. God, please, keep them all safe and sound in Your mighty hands. Dear Mommy and Daddy, I love you!! ♥

Tuesday, May 7

This is a repost from @benzbara_'s post.....


40 atau lebih hal yang harus aku syukuri dan ucapkan terima kasih kepadamu setelah kau pergi


1. terima kasih sudah mencintaiku.

2. terima kasih sudah mengungkapkan bahwa kau mencintaiku.

3. terima kasih sudah berkata aku rindu kepadamu, kepadaku.

4. terima kasih sudah mengirim pesan selamat tidur kepadaku di setiap malam.

5. terima kasih sudah membuatku tersenyum dengan pesan selamat pagi di setiap aku terbangun keesokan harinya.

6. terima kasih sudah menerimaku.

7. terima kasih sudah bersedia untuk aku cintai.

8. terima kasih sudah sempat menitipkan dan mempercayakan hatimu untukku.

9. terima kasih untuk setiap pelukan. yang sebentar, yang lama. (tapi kita lebih sering lama)

10. terima kasih untuk setiap kecupan. di pipi, di bibir, di mana pun yang pernah kita lakukan.

11. terima kasih untuk perjalanan yang tidak pernah aku bayangkan.

12. terima kasih untuk pengalaman yang tidak terlupakan.

13. terima kasih untuk kenangan yang manis.

14. terima kasih untuk waktu yang sudah kau berikan.

15. terima kasih sudah memperhatikan kesehatanku.

16. terima kasih sudah menjadi inspirasi untuk tulisan-tulisanku.

17. terima kasih untuk setiap tawa yang disebabkan olehmu.

18. terima kasih sudah memperlihatkan dan mengenalkanku ke sudut dunia lain yang baru

19. terima kasih untuk hal-hal yang baru.

20. terima kasih untuk debar bahagia yang kurasakan setiap menjelang bertemu kau.

21. terima kasih sudah menunggu.

22. terima kasih sudah menyediakan waktu untukku meski kau sudah tidak lagi boleh menyediakan waktu untukku.

23. terima kasih untuk kesabaranmu menghadapiku.

24. terima kasih untuk setiap percakapan tengah malam yang membuatku tidur selalu larut.

25. terima kasih untuk pemberian yang sekarang (dan nanti akan masih) aku kenakan.

26. terima kasih untuk lagu-lagu kesukaanmu yang kau bilang mengingatkanmu kepadaku.

27. terima kasih untuk hari-hari yang menyenangkan.

28. terima kasih untuk khayalan-khayalan masa depan yang sering kita tertawakan.

29. terima kasih sudah mendengarkanku berbicara.

30. terima kasih sudah membuatku merasa dibutuhkan.

31. terima kasih sudah mencoba untuk bertahan.

32. terima kasih sudah memberiku kesempatan.

33. terima kasih untuk setiap kemesraan.

34. terima kasih untuk tetap ada.

35. terima kasih untuk tidak benar-benar pergi.

36. terima kasih atas semua hal yang membuatku berterima kasih.

37. terima kasih untuk setiap mimpi-mimpi.

38. terima kasih untuk masih ada di sini.

39. terima kasih sudah memulai.

40. terima kasih sudah mengakhiri.

Saturday, April 27

Nostalgia Chai Tea Latte & Java Chip Frappucino.



Salahkah aku jika aku berharap?

Salahkah aku jika aku menanti?

Salahkah aku jika aku bertahan?

Bertahan sekuat raga dan berharap semampu jiwa,

berusaha menuntaskan penantian panjang yang hati ini telah rindukan sejak lama.

Mengharapkan kehadiran sosok yang akan hadir disini,

dan menerima sebagaimana adanya aku,

tanpa adanya keraguan sedikitpun.

Dia, 

yang bisa mengertiku tanpa aku harus memintanya terlebih dahulu,

dia yang akan selalu menarikku agar kembali kejalanku disaat aku nyaris tergelincir,

dia yang akan menggenggam erat tanganku,

meyakinkanku kalau kita sanggup,

dia yang akan menuntunku, membimbingku serta berjalan bersamaku

saat aku harus menapaki deretan anak tangga kehidupan

yang memang tidak akan pernah stabil kapanpun aku kehilangan harapan

 

 

 

         Dengan tergesa-gesa, aku memasuki salah satu kafe favoritku didaerah Jakarta Selatan pada siang (menjelang sore) itu. Aroma kenikmatan kopi dengan cepat langsung menggugah seleraku. Senyuman dan keramahan para pelayan kafe juga telah menyongsongku sejak beberapa detik sebelumnya.

        Tanpa menunggu lama, setelah aku memberikan sejumlah uang pada pelayan kafe yang melayaniku saat itu, nampan berisi segelas dingin Java Chip Frappucino dengan ekstra whipped cream kesukaanku akhirnya sudah berada didalam genggaman tangan kananku. Begitu juga dengan sepiring choco eclair dan cinnamon roll yang terlihat begitu cantik serta menggoda. Aku pun berjalan menuju salah satu sudut tempat itu, menghampiri bangku kejayaanku, maksudku bangku favoritku selama tiga tahun terakhir sejak pertama kalinya aku jatuh cinta pada kafe ini.

       Aku mengeluarkan ponselku dan memeriksanya sekilas. Tak ada pesan masuk, seperti tebakanku. Mau aku ada dimanapun, dunia ini seakan terlalu sibuk dengan kehidupannya. Semua orang terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Itu memang bukan masalah yang cukup besar bagiku. Toh hal itu terbukti, aku rasa aku bisa hidup tanpa bantuan orang-orang yang tidak pernah peduli denganku.

       Baru sebentar aku menikmati kesendirianku, menyeruput minumanku dan menusukkan garpu (maksudku memotong kecil-kecil) kudapan ringanku sore itu, seseorang tiba-tiba sudah berada didepanku. Aku memang belum menengadahkan wajahku untuk menatapnya, tapi dari bayangan yang tiba-tiba menghalangi pancaran lampu diatas mejaku, aku yakin sosok itu adalah sosok seorang lelaki atau mungkin seorang perempuan yang bertubuh besar dan tinggi. Oke, opsi kedua memang terdengar sangat impossible.

      "Permisi, notebook ini punya kamu, bukan?" tanya orang itu.    

      Refleks, aku pun mengangkat wajahku dan disaat yang sama, mataku terpaut dengannya. Disana berdiri seseorang yang memang aku telah kenal, well, mungkin tidak secara langsung, tapi aku tahu aku sering melihatnya. Entah didalam mimpiku atau bahkan realita. Lelaki ini, aku sering melihatnya datang ketempat ini juga. Dia juga pernah muncul kedalam mimpiku saat aku terlelap entah berapa kali. Memang aneh. Aku tahu ini aneh.

      Lelaki itu memegang sebuah gelas yang dapat kuperkirakan isinya merupakan salah satu jenis teh, atau semacamnya. Karena warnanya tidak sepekat kopi yang ada digelasku. Tangannya yang lain menyodorkan notebook biru yang selalu kubawa kemanapun kakiku ini melangkah. Lelaki itu tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman canggung yang entah mengapa terlihat manis dimataku.

      Seakan tersadarkan dari bayangan aneh yang merasuki otakku, aku pun akhirnya kembali kerealita dan membuyarkan tatapan konyol yang jelas sedaritadi telah kutujukan untuknya. "Uhm, eh, iya, itu punyaku. Terimakasih" ucapku tergagap, sambil berusaha tersenyum. Sebuah senyuman yang mungkin kini bisa dideskripsikan mirip cengiran seekor anak cheetah. Misterius, mengerikan, apapun lah.

      "You're welcome, miss" balasnya. Aku menyeruput minumanku lagi sambil menganggukkan kepala pelan lalu memasukkan notebook biruku yang tadi entah mengapa bisa ada ditangan lelaki itu. "Boleh nggak saya duduk disini?" tanya cowok itu tiba-tiba. Disini yang dia maksudkan ternyata adalah didepanku.

      Walaupun ini terdengar aneh, tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku bisa merasakan barisan peringatan muncul didalam otakku layaknya barisan iklan baris pada sebuah stasiun televisi yang tidak pernah berhenti sedetikpun. Hati hati dia bisa saja orang jahat. Seperti itulah inti peringatan yang memenuhi otakku.

       Lagi-lagi, aku hanya sanggup mengangguk. Lidahku mendadak kelu entah kenapa. Lelaki itupun duduk didepanku. Sebenarnya, lelaki itu tidak terlihat seperti seorang penculik, pedofil, pencuri atau apapun. Dia terlihat baik, ramah dan pastinya, dia cukup tampan.

      Dengan balutan sebuah celana khaki, kemeja putih dan jam tangan Rolex hitam yang melingkari tangan kirinya bersamaan dengan sebuah gelang karet hitam yang memiliki tulisan HOPE putih disana serta sepasang sepatu oxfords hitam yang ada ditubuhnya, lelaki itu sama sekali tidak terlihat seperti penjahat. Mungkin, ya memang mungkin, hanya logika konyolku saja yang telah membuatku nyaris salah menilainya. Melihat penampilannya, hatiku seakan teriris. Karena sepertinya, kondisi penampilanku dan dia saat itu memang sangat bertentangan. Dia terlihat begitu rapi dengan semuanya, sedangkan aku hanya mengenakan sebuah jins hitam, tanktop hitam yang dilapisi kemeja jins longgar serta sepasang wedges yang juga berwarna biru. Mungkin, satu-satunya hal mahal yang ada disekitarku saat itu hanyalah ponselku serta tas manik-manik yang beberapa bulan lalu aku beli di Dubai. Intinya ya, penampilanku sangat biasa saja dibandingkan si lelaki eksklusif didepanku yang kini sedang sibuk menyeruput minumannya.

     Entah ada apa yang telah merasukiku, aku mengulurkan tanganku. "Hmm, aku  Martha Abigail. Panggil Abby saja, people usually called me that way" ucapku sambil mengulurkan tangan dan berusaha menunjukkan sebuah senyum yang manis. Dia membalas uluran tanganku, menggenggamnya dengan erat dan tersenyum. "Austin. Austin Nathaniel. But you can call me Austin" balasnya sambil tersenyum. Tiba-tiba, disaat yang sama, jantungku mendadak berulah dan berdetak cepat.

      Buru-buru aku melepas tanganku dari genggamannya. "Wah, kebetulan temanku banyak yang namanya Austin. Can I just call you Nathan?" tanyaku jujur karena memang aku punya banyak sekali teman bernama Austin. Sampai-sampai, aku harus membubuhi sejumlah angka pada kontak ponselku yang bernama Austin.

      Dia tertawa pelan. Dheg. Entah mengapa, melihatnya tertawa seakan mengubah pandanganku secara spontan. Semuanya terkesan berbeda karena ada dia didekatku saat itu. Aku tidak merasakan lagi kesendirian ataupun kesepian yang sering aku rasakan dulu. Aku tidak merasakan lagi semua kesedihan yang biasanya menjadi alasanku datang kekafe ini. "Boleh. Tentu saja boleh. Kalau begitu, saya boleh juga dong memanggilmu Martha?" tanya Nathan sambil tersenyum menatapku. Lagi-lagi, secara dadakan perutku mulai berulah. Sepertinya, aku harus secepatnya memeriksakan kondisi tubuh dan sarafku pada neurologi ahli.

       "That seems fair enough" balasku yang saat itu tak sadar kalau aku sudah tersenyum merespon perkataannya. Sambil berusaha menghilangkan kegugupanku kapanpun bertemu orang asing, aku kembali menyeruput minumanku. Saat aku selesai melakukannya untuk beberapa detik, Nathan mengejutkanku dengan sebuah pertanyaan.

       "Kamu suka menulis, ya?"

       "Uhm, kok tahu?"

       "Maaf kalau lancang, tapi tadi saya sempat melihat isi bukumu itu. Penuh dengan coretan khas penulis"

       "Sebenarnya, aku juga masih amatir, sih. Nggak jago-jago banget"

       "Buat takaran amatir, tulisanmu nggak jelek-jelek banget juga, kok!" 

        Mendengarnya memujiku seakan membuat diriku melayang ketingkap ketujuh cakrawala. Aku tahu perkataan Nathan itu tulus. Aku tahu dia sungguh-sungguh mengungkapkannya tanpa ada tujuan khusus atau modus tertentu. 

        Aku tertawa canggung. "Anyway, tadi kenapa buku aku bisa ada sama Nathan ya?" tanyaku berusaha menetralkan suasana. Karena aku memang tidak terlalu suka menerima pujian berlebih. Tapi entah mengapa, pujian dari seorang Austin Nathaniel nyaris merubuhkan tembok yang dulu telah kubuat berhari-hari agar aku sanggup kebal terhadap perkataan orang lain.

        "Mbak yang dikasir itu yang minta tolong sama saya supaya kasih bukunya kekamu. Kayaknya tadi tertinggal dikasir" balasnya lagi-lagi sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan meciptakan sebuah huruf O pada bibirku. "What makes you visited this place then? I mean, actually I guess I've seen you here several times before now" tanyaku. Nathan terlihat mengerutkan keningnya. Disaat yang sama, aku pun merasa bahwa mungkin pertanyaan yang kulontarkan itu merupakan hal yang aneh, absurd atau apapun. 

        "Wah, berarti tebakan saya juga benar. Saya juga merasa seperti pernah melihatmu sebelumnya. Saya memang suka kesini, kok. Saya suka mencari inspirasi disini" balasnya singkat namun tegas dan langsung menjelaskan maknanya. "How about you, Martha?" tanyanya. Leherku serasa tercekat mendengar namaku disebut olehnya. Aneh memang. Tapi mendengar caranya menyebut namaku dengan benar, ejaan yang sempurna tanpa kesalahan sedikitpun terasa begitu menyenangkan.

        "Aku juga suka kesini. Tempatnya memang comfy banget dan yah, finding some inspirations phase works with me, too" balasku pelan sambil menatap iba piring bekas choco eclairku yang kini telah lenyap dan pindah kedalam perutku sepenuhnya. Entah ada angin apa, tiba-tiba aku malah menawarkan cinnamon rollku pada Nathan. Dia pun hanya menerima tawaranku itu dengan cuma-cuma.

        Sambil memandangi Nathan menyantap kudapannya, aku sadar ujung bibirku terangkat sedikit. Tak lama setelahnya, kami berdua pun terlarut dalam perbincangan yang cukup mengasyikkan. Aku dapat dengan mudah menyimpulkan kalau dia itu lelaki yang cerdas. Nathan bukanlah cowok yang hanya modal tampang atau materi yang berlagak keren dan selalu ingin diperhatikan. Dia merupakan salah satu cowok yang memiliki wawasan yang luas dikala hal itu menjadi salah satu hal yang sulit ditemukan saat ini.

         Dari ceritanya, aku mengetahui kalau Nathan menyukai fotografi. Fotografi itulah yang membuatnya selalu datang ketempat ini. Karena dia yakin, setiap seniman memiliki suatu tempat favorit yang akan menjadi sumber inspirasinya. Dia menunjukkan beberapa hasil fotonya dari iPad putih miliknya. 

        Spontan, aku lagi-lagi terpukau olehnya. Memang, Nathan tetap merendahkan diri dan mengatakan kalau hasil jepretannya itu biasa saja. Tapi toh, buat seseorang sepertiku yang tidak begitu fasih mengutak-atik kamera, yang pengetahuan tentang fotografinya masih sangat minim, aku berani bertaruh kalau hasil karya Nathan itu bukan hasil dari setting-an autofocus semata.

          "Wow, kamu hebat, ya!" pujiku tulus. Nathan terlihat malu-malu mendengarnya. Dia hanya tersenyum. Aku dapat melihat pipinya sedikit berubah kemerahan dan itu terlihat sangat menggemaskan. "Biasa saja. Kamu juga begitu, kok" ucapnya sambil tersenyum. Mungkin, mungkin aku perlu memperingatkan Nathan agar berhenti tersenyum. Karena kapanpun dia tersenyum, duniaku seakan dijungkirbalikkan olehnya.

          "Mungkin, kapan-kapan kita bisa berkolaborasi menciptakan suatu mahakarya" tuturnya tiba-tiba. Tatapannya terlihat tajam dan berapi-api, penuh dengan semangat dan passion yang entah bisa tiba-tiba muncul darimana. "I'd like to, that could be really fun!" seruku menggebu-gebu. 

          Disaat itulah aku sadar kalau semangat ternyata bisa menular juga. Even though it's contagious but it's not bad. Disaat yang sama juga, aku rasa aku telah jatuh cinta. Sebut ini konyol atau kekanak-kanakan. Tapi walaupun selama ini aku selalu menghina apapun yang berkaitan tentang cinta pada pandangan pertama, kayaknya inilah saat ketika semesta baru saja menamparku kalau tidak selamanya persepsi yang dibuat oleh logikaku akan selalu benar. Tidak selamanya.

          "Dan mungkin, dipertemuan selanjutnya, kamu sebaiknya mengganti kopimu itu dengan teh atau apapun yang sedikit lebih ringan" ucapnya sambil tersenyum. Kini, aku yang bingung mendengar ucapannya. "kenapa?" tanyaku polos. "Karena menurut saya, kamu sudah terlalu adiktif sama kopi, selain gigi bisa kuning, kadar kafein yang berlebih bagi seorang wanita juga tidak baik, Martha. Resikonya banyak. Kamu juga bisa kehilangan kecantikanmu itu, loh" lanjut Nathan.

          Jantungku seakan berhenti mendadak. Walau tidak secara langsung, tapi Nathan baru saja menyimpulkan kalau aku cantik. Gawat, kenapa jantungku berulah lagi, batinku. "Mungkin, aku bisa coba apapun minumanmu itu. Kayaknya itu enak" balasku sambil lagi-lagi menunjukkan senyumku.

          "Nih, mau coba?" balasnya tiba-tiba sambil menyodorkan gelasnya padaku. Seakan mengetahui keraguanku, dia malah mengulang pertanyaannya. "Kalau mau coba nggak apa-apa. Silakan" lanjutnya lagi. Apapun yang baru saja merasukiku saat itu, mungkin aku akan mengutuknya kini, entah mengapa, aku malah mengambil gelasnya dan meminumnya langsung. Rasanya enak, sih.

          "Itu Chai Tea Latte. Enak, kan?" tanyanya. Aku mengangguk pelan. "Kalau pesananmu itu, itu Java Chip Frappucino, kan?" tanya Nathan lagi. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, aku pun bingung mengapa setelah meminum sebuah minuman dari gelasnya, aku bisa tiba-tiba terbungkam.

          "Sebenarnya, saya juga suka Java Chip Frappucino, tapi saya memilih untuk mengurangi jumlah konsumsinya." jelas Nathan. Aku hanya mampu ber-oh ria. Semua yang terjadi hari ini sangatlah aneh. Tidak pernah aku membayangkan akan berada disini ditempat ini, bersama seseorang yang tidak pernah kubayangkan akan muncul dalam hidupku, dengan orang yang dulu mungkin kubayangkan sebagai orang yang tidak akan pernah cocok denganku, tapi kini sukses membuat hariku yang sebelumnya buruk berubah menjadi lebih berwarna, sukses menahanku untuk tetap berbincang bersamanya selama lima jam terakhir.

          Seakan tersadarkan akan waktu, walaupun aku masih sangat ingin berada disini, didekatnya, menghabiskan waktu bersamanya, aku sadar aku harus pulang sebelum orang rumah mulai memberiku deretan petuah yang sebenarnya cukup membosankan untuk didengar. Aku tahu memang tujuan mereka baik, tapi kadang, ada orang tua yang terlalu mengekang anaknya dan menganggap kalau anak mereka sama sekali tidak bisa menjaga diri dan etika. Tapi, sorry deh, aku bukan tipe perempuan yang tidak bisa menjaga diri. Buktinya, aku masih bisa menjaga rasa maluku, seperti sekarang ini.

         Sepertinya pikiranku dan Nathan memang terkoneksi. Saat dia melihatku merapikan barang-barangku yang berserakkan diatas meja, dia tiba-tiba berbicara. "Kamu sudah mau pulang, ya? Sekarang sudah malam. Saya antar kamu pulang saja, ya?" tanyanya mengajukan bantuan. Dengan cepat, aku menolak ajakannya. Karena aku memang masih tahu etika dan masih tahu kalau aku harus menjaga diri, menjaga image dan sedikit jual mahal. 

         Akhirnya, Nathan pun hanya mengantarku hingga ketempat orang-orang biasa menunggu taksi. Setelah aku mendapatkan taksi dan duduk didalamnya, tepat sebelum Nathan menutup pintu taksi itu, kami bertukar nomor handphone. Dia mengetikkan sederet angka pada ponsel touchscreenku. Aku pun melakukan hal yang sama pada ponselnya. Satu hal yang aku sadari, merek ponsel Nathan dan aku sama. Hanya berbeda warna. 

         Baru beberapa meter taksi yang kutumpangi berjalan, aku menerima sebuah sms.

 

From: Nathaniel, Austin 0877xxxxxxx7

Thank you for making my day became more awesome, Martha. Could we meet again, tomorrow? I'd like to spend some more time with a sophisticated girl like you. I also want to show you some of my photographs. :)

 

Tanpa menunggu lama, aku pun langsung mengangguk pelan dan sambil tersenyum, aku pun mengetikkan deretan kata sebagai balasan sms Nathan tersebut.

 

 

Reply to: Nathaniel, Austin 0877xxxxxxx7

From : Abigail, Martha 0878xxxxxxx7

 

Obviously! I’ll see you there, Nat. :)

 

Sebut aku ini mudah ditebak, tapi malam itu aku sungguh-sungguh tidak bisa tidur dengan pulas. Tidak, ini bukan merupakan efek kopi yang selama ini selalu masuk kedalam tubuhku. Walaupun aku memang penggila kopi, tapi aku sama sekali tidak pernah mengalami gangguan tidur karenanya. Aku ini juga merupakan tipe perempuan yang tidak akan sungkan maupun menolak untuk meluangkan waktu sejenak agar bisa tidur siang. Hanya saja, otakku daritadi sedang sibuk mereka ulang kejadian hari itu, semua yang telah berlalu hari itu, bahkan semua percakapan antara aku dan Nathan juga diulangnya dengan sempurna.

Hari baru pun akhirnya tiba. Aku yang hari ini memang agak sedikit lebih bersemangat sudah mempersiapkan diri agar bisa terlihat menarik didepan Nathan hari itu. Loh, ada apa denganku, kenapa tumben aku berpikiran kalau aku harus bisa terlihat menarik didepan orang? Batinku kebingungan.

Jarum jam masih menunjukkan pukul tiga sore tapi aku merasa lebih baik aku bergegas jalan menuju kafe favoritku, yang kini menjadi satu-satunya kafe yang paling aku cintai sepanjang masa. Aku akui, penampilanku hari ini memang terlihat sedikit berbeda. Aku mengenakan sebuah tea dress selutut berwarna broken white sederhana dan sepasang wedges putih. Tidak terlalu asal dan slebor seperti biasanya memang.

Setibanya dikafe, aku melihat sekeliling dan tidak menemukan Nathan disana. Hm, kayaknya telat memang akan selalu menjadi ciri khas cowok sepanjang masa, batinku. Saat aku hendak memesan minuman favoritku, tiba-tiba saja aku spontan menggantinya dengan sebuah pesanan yang baru pertama kali aku coba kemarin, yang rasanya belum begitu familiar dengan lidahku. Yup, Chai Tea Latte. I ordered that because he recommended me to.

Setengah jam telah berlalu setelah aku duduk dipojok favoritku, tempat yang sama dengan tempat aku dan Nathan bercengkrama kemarin. Namun Nathan masih belum muncul juga. Waktu terus berlalu hingga angka jam digital diponselku menunjukkan pukul setengah lima.

Sejenak, keraguan mulai merasukiku. Apakah dia lupa? Apakah Nathan hanya mempermainkanku? Apakah dia tahu kalau aku ini tipe perempuan lemah yang mungkin terlihat seperti mudah jatuh cinta? Apakah semua ini hanya efek dari modus terselubungnya? Apakah dia hanya mau menyakitiku? Aku berusaha menepis semua pikiran burukku tentang Nathan kala logika dan hatiku sibuk berperang.

          Tiba-tiba, seorang wanita yang kukenali sebagai salah satu pelayan kafe itu menghampiri mejaku. “Loh, mbak ngapain masih disini?” tanyanya. Aku melongo kebingungan, alisku tertaut. “Maksudnya?” tanyaku pada perempuan itu.

          “Mbak nggak tahu, ya?”

          “Nggak tahu apa?”

          Pelayan itu terlihat tidak yakin dengan jawabanku. “Tadi siang, mas yang kemarin disini sama mbak itu kesini kira-kira satu jam sebelum si mbak sampai disini, dia bawa kertas ini, dia titipin sama saya soalnya dia ada urusan sebentar dan akan balik lagi kesini nanti.” Katanya sambil menyodorkan sebuah map padaku. “Awalnya saya mau kasih sama si mbak, tapi saya nggak enak. Soalnya, setelah dia keluar dari kafe ini, mas itu tertabrak mobil pengantar barang. Si mas itu langsung dibawa kerumah sakit kok, mbak” lanjut wanita itu yang langsung membuat mataku terbelalak.

          “APA? NATHAN KECELAKAAN?!” pekikku panik tanpa memperdulikan orang-orang yang kini menatapku. Pelayan itu mengangguk pelan dan ragu. “Si mbak nya jangan kalut, tadi kayaknya saya dengar si mas itu dibawa kerumah sakit terdekat dari sini” ucap wanita itu dilanjutkan dengan menyebutkan sebuah nama rumah sakit yang kebetulan memang dekat dengan mall tersebut. “Si mbak, jalan sekarang saja. Mungkin si mas itu butuh keberadaan mbak disampingnya!” seru pelayan itu menyuruhku bergegas. Kini, ucapannya hanya kubalas dengan anggukan lesu.

Hatiku seakan telah dilempar dari puncak Semeru dan hancur menjadi serpihan pasir. Entah mengapa, aku merasakan mataku semakin panas. Tapi tidak, aku tidak boleh menangis. Aku adalah perempuan yang kuat, aku tegar. Aku pantang menangis, ulangku pada diri sendiri.

          Aku memasuki sebuah taksi dan menyebutkan tujuanku pada sang sopir. Aku masih berusaha menahan tangisku meledak. Aku teringat kembali dengan map cokelat yang katanya merupakan titipan Nathan untukku. Aku membuka lilitan talinya dan terkejut dengan isi map itu. Ada beberapa lembar foto dan sebuah lipatan kertas hvs putih yang penuh dengan tulisan. Anehnya, semua objek foto-foto tersebut adalah aku. Aku dengan semua ekspresi yang pernah kutunjukkan pada dunia. Aku dan pojok favoritku di kafe favoritku.

          How did he get all these pictures, batinku. Karena penasaran, aku membuka lipatan kertas itu perlahan. Tanpa menunggu lama, air mataku yang tadinya berusaha kutahan mati-matian mengalir saat membaca deretan kata yang telah dirangkai dan ditulis oleh Nathan.

 

Hai Martha Abigail,

Saya senang karena akhirnya saya bisa mengetahui namamu. Seperti tebakan saya, namamu pasti semanis dirimu. Mungkin, setelah kamu membaca surat ini, kamu bisa saja menjauhi saya karena merasa saya hanyalah seorang penggemar rahasia gila yang memiliki obsesi konyol pada seorang perempuan yang jelas-jelas tak akan pernah mau mengenalnya. Kamu punya hak untuk menjauhi saya setelah kamu membaca surat ini. Tapi sebelum hal itu terjadi, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan.

Saya telah jatuh cinta padamu semenjak tiga tahun lalu. Saya jatuh cinta pada perempuan yang dulu pernah secara tidak sengaja menumpahkan sedikit kopinya pada kemeja saya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang menatap saya sinis saat saya menduduki tempat favoritnya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang sepertinya selalu tenggelam dalam imajinasinya sendiri saat sedang sibuk berhadapan dengan laptop maupun buku catatannya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang akan selalu nyengir dan bukan tersenyum centil saat ada seseorang menyapanya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang suka diam-diam melantunkan lagu-lagu Oasis yang mungkin ganjil bagi sebagian orang. Suaramu bagus, Martha. Kamu perlu tahu itu.

Saya jatuh cinta pada perempuan yang selalu kesal kalau signal ponselnya mendadak memburuk. Saya jatuh cinta pada perempuan yang selalu berdandan sederhana namun tetap tahu bagaimana cara agar terlihat istimewa namun tidak pasaran maupun murahan. Saya jatuh cinta pada satu-satunya perempuan yang pernah menawarkan cinnamon roll pada saya. Saya jatuh cinta pada satu-satunya perempuan yang tahu kalau saya juga menyukai fotografi. Saya jatuh cinta pada perempuan pertama yang memuji hasil karya saya. Berikut ini adalah foto perempuan itu. Saya mengakuinya. Saya mencintaimu Martha. That’s all what you need to know. Maafkan saya kalau saya memang terkesan layaknya penguntit. Memang selama ini saya hanya sanggup mengamatimu dari jauh. Saya hanya tidak mau mengusikmu. Saya bersyukur karena akhirnya Tuhan mengizinkan saya agar bisa mengenalmu lebih dalam. Saya bersyukur karena akhirnya kesempatan itu datang. Semua memang butuh waktu. Saya tahu itu. Kalaupun nanti kamu malah menjauhi saya karena status saya, saya sudah siap untuk menerima keputusannya. Bahkan jikalau kedepannya Tuhan mengizinkan saya untuk bisa mengenalmu lebih jauh, saya berjanji akan selalu ada untukmu dan tetap mencintaimu, hingga nafas terakhir saya berlalu.

 

Tertanda,

Austin Nathaniel Gerard a.k.a Austin Gerard

 

          Aku sangat terkejut karena ditengah-tengah semua hal yang menurutku sangat kacau, ditengah semua masalah yang datang dan pergi dalam kehidupanku, ternyata ada seseorang yang mengenal aku nyaris sedalam aku mengenali diriku sendiri. Ada orang yang telah ditakdirkan untuk selalu ada untukku. Ada orang yang telah ditakdirkan untuk mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya. Orang itupun bukan orang sembarangan. Nama seorang Austin N. Gerard bukanlah nama biasa-biasa saja. Jujur, aku sudah sering mendengar nama itu diberita maupun membacanya diartikel-artikel online. Terbukti, Nathan bukanlah orang biasa. Dari semua berita tentang Nathan yang mungkin sedikit tersangkut didalam otaknya, Nathan merupakan salah satu pewaris sebuah perusahaan yang sedang naik daun.

Tepat setelah aku selesai membaca surat dari Nathan, taksi yang kutumpangi tiba disebuah pintu UGD salah satu rumah sakit. Tanpa meminta kembalian, akuberlari memasuki pintu masuk ruang UGD yang besar dan bercat putih.

Aku mengedarkan pandanganku. Berusaha menemukan Nathan. Mungkin dengan cara yang sama seperti cara dia menemukanku dulu. Tapi aku tidak menemukan dia. “Sus, disini kenapa nggak ada pasien yang bernama Austin Nathaniel Gerard, ya?” Tanyaku agak waswas saat menyebutkan marga Nathan. Nanti aku dikira macam-macam, lagi.

“Ohh, keluarga Gerard memindahkan dia kekamar VIP lantai tiga puluh delapan, mbak” balas suster itu. Tanpa menunggu lama, aku berjalan menuju lift, masuk kedalamnya dan dengan hati yang sangat kalut saat itu, aku memencet tombol bertuliskan angka laknat, angka lantai tempat Nathan berada. Aku sedikit lega karena Nathan ternyata masih hidup. Hanya saja, aku tidak bisa menebak bagaimana kondisinya sekarang.

Begitu lift terbuka, disanalah aku melihat semuanya.

Nathan sedang berbaring diatas sebuah kasur rumah sakit. Kepalanya diperban dan tangannya digips. Kondisinya cukup mengenaskan dan lumayan mengiris hati. Namun disana dia tidak sendirian. Ada seorang wanita paruh baya sedang duduk disampingnya. Keduanya sedang tersenyum dan mereka mirip. Instingku spontan menyimpulkan kalau itulah ibunda Nathan. Wanita yang telah berhasil membesarkan anaknya menjadi sesosok pria yang pasti diidam-idamkan oleh setiap kaum hawa normal lainnya.

Sepertinya semesta mengetahui pikiranku. Saat aku masih berdiri terpaku didepan lift, Nathan menoleh kearahku. Dia terlihat sedikit terkejut, namun dia berhasil mengusir keterkejutannya dan memberi sebuah senyuman manis yang membuat perasaan khawatirku luruh. Tanpa perlu ditanyakan, gemuruh degup jantung yang semakin menjadi-jadi akhirnya mulai terdengar.

Layaknya dua kutub magnet berlawanan yang memang telah ditakdirkan untuk saling menempel jika bertemu, kakiku melangkah mendekatinya. Aku melihat Nathan melirik ibunya pelan. Dia mendapati sebuah senyum haru dan rona bahagia dari ibunya. Senyumnya terlihat semakin merekah. Lagi-lagi, senyum itu yang menghilangkan semua hal negatif dari hati dan pikiranku.

“Kamu datang” ucapnya grogi. Aku mengangguk. Tak dapat disangkal, senyumku menunjukkan dirinya. “You already knew that I’ll always be near you, right? So here I am, Nath” balasku pelan.

You’ve read my letter, haven’t you?”

Lagi-lagi aku hanya sanggup menganggu. Bahkan, dalam kondisi seperti inipun, Nathan masih sanggup membisukanku dengan pesonanya. Nathan menarik nafas berat lalu membuangnya perlahan. “Kamu sudah baca semuanya, kan? Kamu sudah tahu semuanya. Bahkan, kamu sudah tahu siapa saya. Kalaupun kamu merasa perempuan yang terlalu istimewa sepertimu tidak pantas bersama seseorang seperti saya, kamu punya pilihan itu, kamu berhak meninggalkan saya” tuturnya pelan yang langsung membuat mataku terbelalak melotot tak percaya. 

“Ih, apa sih kamu kenapa ngomong begitu? Aku baru sampai begini udah ngusir aja, ya” protesku sambil memonyongkan bibir. Jujur, aku memang kesal karena perkataannya. Ngapain juga dia harus insecure begitu. Kalaupun disini ada yang harus insecure, orang itu jelas adalah aku, kan?

Nathan tersenyum geli mendengar ucapanku yang sepertinya terdengar bagai perkataan orang ngos-ngosan yang habis disuruh lari seratus putaran mengitari GBK. Entah mengapa, tiba-tiba aku menggenggam tangan kanan Nathan dan mengatakan kata-kata yang membungkamnya kira-kira lima menit. “Even if I knew that I do have the options to leave and I could simply choose that, do I really have to go? Did you also want me to leave? I know none of us expected so.”

Nathan tak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menarikku mendekat, merangkulku dalam dekapannya. Disaat yang sama, aku merasa aman, aku merasa nyaman, aku merasa aku dicintai, aku merasa semua ketakutanku akan kesendirian akhirnya seluruhnya telah hilang, aku merasa semua hal ini kekal, infinite, abadi, indah, ya begitu lah.

“Oiya, maaf ya Nath, soal kopi yang waktu itu aku tumpahin di…” perkataanku terhenti karena Nathan sudah lebih dulu meletakkan jari telunjuknya dibibirku. Dia tersenyum merespon perkataanku. “Mam, daritadi aku belum kenalin mami ke Martha” ucapnya sambil tersenyum bahagia kearah wanita yang tadi memang sudah kutebak sebagai ibunya. Wanita itu tersenyum lebih bahagia menatap Nathan dan aku. “Ini Martha Abigail mam. Pacar aku!” serunya bahagia yang langsung membuat lututku lemas, jantungku semakin bermain drum dan lidahku kelu, lagi. Ibunda Nathan menghampiriku dan memelukku. Everything makes me feel like home, recently.

“Sejak kapan, ya?” bisikku didekat telinganya. “Sejak barusan aku ngomong begitu!” balasnya sambil menunjukkan cengiran yang mungkin sedikit mirip dengan milikku. “Eh, kamu bawain Chai Tea Latte itu buat aku, ya?” Tanya Nathan yang masih merangkulku yang masih terkejut namun bahagia luar biasa.

“Enak aja, ini tadi aku beli waktu aku nunggu kamu tahu!” protesku sambil menarik kembali gelas plastik berisi Chai Tea Latte yang barusan sudah berpindah tangan dari tanganku ketangannya.

But I guess, we could simply share it. As the exact same way we’re gonna share our story from now on, aren’t we?” ucapku sambil menyodorkan gelas Chai Tea Latte pada Nathan, membuat senyumnya lagi-lagi merekah. “Sama seperti kita akan membagi pojok favorit kita dikafe, kan?” tanyanya menggodaku. Hih, sepertinya dia sudah mengetahui kelemahanku. Mau tak mau, aku mengangguk malu-malu, sekaligus gemas. “As long as you promise me that you would tell me whenever you want to take a pic of me, okay!” balasku yang langsung membuatnya tergelak.

 

 

Every once in a while, someone comes into your life and makes you feel very special without him/her trying hard to do that. They are just doing their stuffs effortlessly, but all of those effortless behaviors and actions they have done made some mark in your heart and they opened your eyes if love does exist.

That someone whom we thought were very different than ourselves, whether physically, emotionally, financially or whatever. But love never accept any kind of excuses, when God has allowed it to happen, it eventually happens.

Love could change you, it could give you the strength to give and spread the love itself, even encourage you to return the love that someone special has given to you. We all know that love is not a because but it is a no matter what. It normally comes when you least expect it. Just take a deep breath, breathe in, breathe out. Just believe that God has prepared the right person for you, the one that will love you no matter what. Just dance with God, sooner or maybe later, God will let the perfect person cuts in.