Tuesday, June 25

Heartless?!

Hi guys....
Pasti pada penasaran kan kenapa aku tiba-tiba muncul lagi dan sekalinya muncul langsung buat postingan yang mungkin berbau galau atau some kind like that disini??

Hmm, sebenarnya aku lagi nggak galau sih... Cuma habis disadarkan akan suatu hal penting saja...

Semua orang pasti pernah mengalami yang namanya patah hati.
Baik itu patah hati dalam hubungan internal keluarga, hubungan antara dua pihak perempuan dan laki-laki maupun hubungan persahabatan.
Semua orang pasti pernah dikecewakan, dikhianati dan dianggap mungkin hanya sebatas pelarian atau pelampiasan....
Klise, semua orang pasti pernah merasakan suatu kondisi dimana dia harus "jatuh".
Hanya saja, tidak banyak orang yang sanggup bangkit dan menepis semua duka maupun dendam akibat rasa sakit hati itu.
Lebih banyak orang memutuskan untuk melanjutkan hidup tapi sambil menutup hatinya juga karena dia begitu takut akan semua resiko yang mungkin akan diterima olehnya. Simpelnya, dia memutuskan untuk heartless karena masih dihantui oleh trauma masa lalu... Aku pun pernah ada didalam fase itu.

Bisa dibilang mungkin bodoh atau malah aku pernah jadi pengecut yang bertahan pada kenangan masa lalu, kenangan semu terhadap seseorang maupun beberapa pihak yang mungkin pernah ada didalam kisah hidupku. Pihak yang dulu aku pikir merupakan pihak yang baik namun kenyataannya tidak sama sekali. Karena adanya sedikit harapan jikalau mungkin semuanya masih bisa kembali seperti dulu.
Karena harapan semu itulah aku sadar kalau aku pernah membangun dinding tebal untuk proteksi diri. Karena itulah selama beberapa belas bulan terakhir, jauh didalam diriku aku pernah menjadi pribadi yang takut akan komitmen, takut mempercayai orang lain, aku menjadi seseorang heartless.

Hingga akhirnya, sebuah statement menyadarkanku kalau selama ini tindakanku salah total.

"Terus, cuma karena elo heartless, hidup lo bisa jadi lebih bahagia? Bukannya kebalikan? Bukannya lo malah jadi menyia-nyiakan semua momen yang sedang berlalu sekarang ini? Lo relain semua kebahagiaan lo demi orang-orang yang nggak tahu gimana caranya menghargai elo? Buat orang yang nggak tahu seberapa besar dampak yang sudah lo berikan bagi mereka? Buat mereka yang masih mengekang elo secara nggak langsung dan buat lo sekarang terjebak dalam masa lalu sehingga elo nggak bisa freely live your life?"

Aku ingat aku termenung sejenak saat orang itu menanyakan kalimat tersebut padaku.

"Semua yang sudah berlalu dan pergi dari kehidupan kita itu bukan pergi tanpa alasan. Semua kata-kata, cacian, hinaan, sindiran dari orang-orang yang tidak memahami caranya berterimakasih dan bersyukur pasti ada hitungannya sendiri yang dihitung oleh Tuhan. Semua yang nggak ada lagi dalam kehidupan kita dimasa kini itu bukan tanpa alasan, tapi jelas, Tuhan nggak pernah mengizinkan semuanya ada dalam cerita lo sekarang. Kalau dimasa lalu aja mereka nggak bisa memahami elo, gimana masa sekarang, gimana masa depan? Yang ada elo cuma akan semakin dimaanfaatkan oleh pihak-pihak seperti itu."

Aku masih diam saat itu. Benar memang perkataannya. Selama ini aku salah total telah menutup diri. Aku salah total sampai menakuti komitmen. Aku salah total karena semuanya.
Seharusnya aku sama sekali tidak bertindak sebodoh itu. Seharusnya aku bangkit, bukannya terpuruk sebegitu parah dan hanya membuka diri pada beberapa orang.

Seharusnya aku bisa menunjukkan pada mereka yang pernah menyakitiku kalau hidupku memang sudah sangat jauh lebih baik sekarang karena Tuhan memberkatiku penuh dengan orang-orang yang setia dan tulus menyayangiku serta menerimaku apa adanya. Aku bisa hidup. I survived dan akhirnya aku bahkan bisa menjalani kehidupan serta dunia persahabatan, ikatan kekeluargaan dan mungkin a little romance yang lebih berbobot.

"Kalau Tuhan mengambil sesuatu dari lo, Tuhan juga yang pasti akan memberikan pengganti yang lebih layak. Bukan berarti status mereka pengganti, bisa jadi malah masa lalu lo itu yang sebenarnya hanya angin lalu, debu yang iseng nempel disana-sini. Debu yang alur kehidupannya nggak pernah konsisten"

Akhirnya aku tersenyum menanggapi perkataannya.
Aku sadar kalau aku harus berubah. Aku harus membuka hati. Membuka diri. Mensyukuri dan menghargai semua yang telah aku miliki saat ini dengan penuh cinta. Karena merekalah yang memang ditakdirkan untuk ada buatku hingga saat ini dan mungkin, selamanya.

"Thank you, ya!" seruku sambil tersenyum bahagia dan menatap mereka satu persatu

"Jangan berhenti percaya. Jatuh itu hal yang wajar. Gagal juga hal yang normal. Tapi semuanya tinggal masalah waktu. Pada waktu yang tepat yang sudah Tuhan sediakan, lo pasti akan dipertemukan dengan sahabat-sahabat sejati lo. Dengan cinta sejati lo juga!"

"Secara nggak langsung, gue aja bisa lihat kenapa dalam kehidupan lo sekarang sudah tidak ada orang-orang yang dulu menyakiti elo. Karena kalau anggapannya elo itu gadget, Lo itu limited edition, OS lo jauh lebih tinggi, lo lebih valuable dan harga jual lo pasti lebih tinggi juga. Lo kuat dan lo berharga. Makanya Tuhan mau lo juga dikelilingi sama orang-orang yang berharga juga"

....................



Intinya buat kamu semua yang mungkin sekarang masih menutup diri rapat-rapat karena segelintir hal dari masa lalu, stop wasting your time, you only live once.. Heartless cuma karena masa lalu itu sama sekali nggak berguna. Kamu yang rugi dan malah mereka yang sudah menyakiti kamu yang untung karena dimata mereka kamu lah yang terlihat lemah. Noooooo, I believe you're stronger than that. You're always stronger than you thought you were. Jangan lagi sia-siakan kehidupan kamu buat mereka yang sekarang mungkin sibuk sama dunia mereka sendiri... You're worth more than what they've done to you, you've been prepared to receive more...

God sees, God hears, God knows what you deserve...




Love,
Steph!