2014 - 022 - 038
"Sekarang ini, masyarakat semakin sadar dan melek dengan audiovisual. Sadar kalau film merupakan media propaganda yang paling ampuh dan viral karena mampu membrainwash masyarakat" - Harris Nizam
Rabu, 19 Agustus 2015 kemarin merupakan hari yang cukup panjang dan berkesan bagi saya karena saya berkesempatan
untuk mengikuti Workshop BCA SHOVIA Short Movie Awards yang diadakan di
aula BKS UNIKA ATMA JAYA Jakarta. Workshop yang dimulai pada pagi hari
sekitar pukul sembilan tersebut merupakan acara yang diselenggarakan
oleh pihak BCA dan ALINEA, Majalah Ilmu Komunikasi UNIKA ATMA JAYA.
Dari sebelum acara dimulai, para peserta workshop yang mayoritas
merupakan mahasiswa/i prodi ilmu komunikasi ATMA JAYA sendiri awalnya
sudah disambut dengan ramah oleh panitia workshop berjaket oranye yang
kebanyakan memang masih mahasiswa juga.
Karena hampir semua kursi sudah penuh, akhirnya saya memutuskan
untuk duduk dibangku kedua dari depan dideretan sayap kiri bangku
peserta. Salah satu teman saya Indah Sari juga duduk disebelah saya pada
kesempatan itu.
Acara dibuka dengan kata sambutan dari salah satu dosen saya Ibu
Andina Dian Dwi Fatma., S. I. Kom., M. Si yang ternyata juga merupakan
dosen pembimbing dari tim majalah ALINEA. Ibu Andina atau yang mungkin
lebih suka dipanggil "Kak Andina" sempat menyatakan kalau beliau yakin
apabila ada benang merah antara dunia jurnalistik dan komunikasi.
Selain Kak Andina, ada juga Bapak Satria Kusuma Fajar Mahardika, , S.Sos., M.Si. perwakilan dari fakultas yang juga memberi sambutan. Setelah Pak Sat (panggilan khas untuk Bapak Satria) selesai memberi sambutan, Ibu Artikaningsih yang merupakan perwakilan dari BCA yang ternyata juga merupakan alumni fakultas Psikologi UNIKA ATMA JAYA juga memberikan sambutan. Dalam kata sambutannya, Ibu Artik sempat juga mengatakan kalau menurutnya "organisasi yang besar dan baik adalah organisasi yang mempunyai orang - orang hebat dan terbaik karena human asset merupakan hal yang sangat penting"
Setelah kata sambutan, kami sempat menonton dua buah film pendek. Film yang pertama menceritakan seorang pedagang gorengan yang rajin dan giat menabung hingga akhirnya berhasil memberikan ibunya kain tenun khas Indonesia. Film yang kedua menurut saya sebenarnya cukup menegangkan dan mengerikan. Film ini menceritakan kisah folklore
Jagawana karya beberapa mahasiswa IKJ yang berhasil memenangkan banyak
kompetisi dan mengharumkan nama bangsa Indonesia di mancanegara.
Narasumber pertama yang naik ke panggung adalah Bapak Noorca M. Massardi
yang merupakan salah satu penulis dan penyair kawakan di Indonesia. Pak
Noorca membahas tentang budaya dan kebudayaan. Beliau berkata kalau
menurutnya kebudayaan bisa dilihat dari banyak hal dan budaya pasri
berubah seiring waktu. Menurutnya juga, kebudayaan memiliki tujuan untuk
menjadi sarana berbuat baik dan juga sarana untuk mewujudkan tolong
menolong serta menjadi ruang agar masyarakat bisa lebih menghormati yang
lebih tua. Selain itu, beliau juga mengatakan kalau selama kita jujur pasti kita bisa membuat hasil - hasil yang baik.
Setelah Bapak Noorca selesai berbicara, yang naik ke panggung sebagai narasumber adalah Bapak Harris Nizam sang director salah satu film terbaik di Indonesia, yaitu film Surat Kecil Untuk Tuhan.
Bapak Harris Nizam mengatakan kalau film pendek merupakan bentuk film
yang paling kompleks karena pengenalan, permasalahan, penyelesaian,
durasi serta metode penceritaan film harus sesingkat - singkatnya.
Meskipun demikian, menurut Harris Nizam, film pendek yang baik harus
mampu memiliki variasi yang baik dan mencakup cara bertutur yang
efektif, sudut pandang yang fleksibel, ide yang bagus serta memanfaatkan
simbol yang ada dan tujuannya masih relevan. Harris Nizam juga sempat
memberikan tips inti cara membuat film pendek menurut dirinya:
1. CERITA harus MAMPU MENYENTUH PENONTON
2. PENOKOHAN KUAT
3. PEMERAN TEPAT SESUAI
4. CREW yang BAIK dan MAU BEKERJA SAMA
5. ENDING yang SEMPURNA
Setelah acara berakhir, saya sempat mengajak kedua narasumber untuk berfoto bersama. Bahkan, Pak Noorca sempat mengajak saya dan Indah untuk selfie bersama juga hehe, entah saya harus merasa malu atau bangga karena bisa foto sama penyair hebat. Saya juga sempat mewawancarai Harris Nizam tentang pendapatnya atas fenomena prosumer dan youtube. Menurutnya, youtube bisa menjadi wadah efektif bagi masyarakat untuk mengekspresikan diri karena menurutnya "Sekarang ini, masyarakat semakin sadar dan melek dengan audiovisual. Sadar kalau film merupakan media propaganda yang paling ampuh dan viral karena mampu membrainwash masyarakat"..



