Saturday, April 27

Nostalgia Chai Tea Latte & Java Chip Frappucino.



Salahkah aku jika aku berharap?

Salahkah aku jika aku menanti?

Salahkah aku jika aku bertahan?

Bertahan sekuat raga dan berharap semampu jiwa,

berusaha menuntaskan penantian panjang yang hati ini telah rindukan sejak lama.

Mengharapkan kehadiran sosok yang akan hadir disini,

dan menerima sebagaimana adanya aku,

tanpa adanya keraguan sedikitpun.

Dia, 

yang bisa mengertiku tanpa aku harus memintanya terlebih dahulu,

dia yang akan selalu menarikku agar kembali kejalanku disaat aku nyaris tergelincir,

dia yang akan menggenggam erat tanganku,

meyakinkanku kalau kita sanggup,

dia yang akan menuntunku, membimbingku serta berjalan bersamaku

saat aku harus menapaki deretan anak tangga kehidupan

yang memang tidak akan pernah stabil kapanpun aku kehilangan harapan

 

 

 

         Dengan tergesa-gesa, aku memasuki salah satu kafe favoritku didaerah Jakarta Selatan pada siang (menjelang sore) itu. Aroma kenikmatan kopi dengan cepat langsung menggugah seleraku. Senyuman dan keramahan para pelayan kafe juga telah menyongsongku sejak beberapa detik sebelumnya.

        Tanpa menunggu lama, setelah aku memberikan sejumlah uang pada pelayan kafe yang melayaniku saat itu, nampan berisi segelas dingin Java Chip Frappucino dengan ekstra whipped cream kesukaanku akhirnya sudah berada didalam genggaman tangan kananku. Begitu juga dengan sepiring choco eclair dan cinnamon roll yang terlihat begitu cantik serta menggoda. Aku pun berjalan menuju salah satu sudut tempat itu, menghampiri bangku kejayaanku, maksudku bangku favoritku selama tiga tahun terakhir sejak pertama kalinya aku jatuh cinta pada kafe ini.

       Aku mengeluarkan ponselku dan memeriksanya sekilas. Tak ada pesan masuk, seperti tebakanku. Mau aku ada dimanapun, dunia ini seakan terlalu sibuk dengan kehidupannya. Semua orang terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri. Itu memang bukan masalah yang cukup besar bagiku. Toh hal itu terbukti, aku rasa aku bisa hidup tanpa bantuan orang-orang yang tidak pernah peduli denganku.

       Baru sebentar aku menikmati kesendirianku, menyeruput minumanku dan menusukkan garpu (maksudku memotong kecil-kecil) kudapan ringanku sore itu, seseorang tiba-tiba sudah berada didepanku. Aku memang belum menengadahkan wajahku untuk menatapnya, tapi dari bayangan yang tiba-tiba menghalangi pancaran lampu diatas mejaku, aku yakin sosok itu adalah sosok seorang lelaki atau mungkin seorang perempuan yang bertubuh besar dan tinggi. Oke, opsi kedua memang terdengar sangat impossible.

      "Permisi, notebook ini punya kamu, bukan?" tanya orang itu.    

      Refleks, aku pun mengangkat wajahku dan disaat yang sama, mataku terpaut dengannya. Disana berdiri seseorang yang memang aku telah kenal, well, mungkin tidak secara langsung, tapi aku tahu aku sering melihatnya. Entah didalam mimpiku atau bahkan realita. Lelaki ini, aku sering melihatnya datang ketempat ini juga. Dia juga pernah muncul kedalam mimpiku saat aku terlelap entah berapa kali. Memang aneh. Aku tahu ini aneh.

      Lelaki itu memegang sebuah gelas yang dapat kuperkirakan isinya merupakan salah satu jenis teh, atau semacamnya. Karena warnanya tidak sepekat kopi yang ada digelasku. Tangannya yang lain menyodorkan notebook biru yang selalu kubawa kemanapun kakiku ini melangkah. Lelaki itu tiba-tiba menyunggingkan sebuah senyuman. Senyuman canggung yang entah mengapa terlihat manis dimataku.

      Seakan tersadarkan dari bayangan aneh yang merasuki otakku, aku pun akhirnya kembali kerealita dan membuyarkan tatapan konyol yang jelas sedaritadi telah kutujukan untuknya. "Uhm, eh, iya, itu punyaku. Terimakasih" ucapku tergagap, sambil berusaha tersenyum. Sebuah senyuman yang mungkin kini bisa dideskripsikan mirip cengiran seekor anak cheetah. Misterius, mengerikan, apapun lah.

      "You're welcome, miss" balasnya. Aku menyeruput minumanku lagi sambil menganggukkan kepala pelan lalu memasukkan notebook biruku yang tadi entah mengapa bisa ada ditangan lelaki itu. "Boleh nggak saya duduk disini?" tanya cowok itu tiba-tiba. Disini yang dia maksudkan ternyata adalah didepanku.

      Walaupun ini terdengar aneh, tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku bisa merasakan barisan peringatan muncul didalam otakku layaknya barisan iklan baris pada sebuah stasiun televisi yang tidak pernah berhenti sedetikpun. Hati hati dia bisa saja orang jahat. Seperti itulah inti peringatan yang memenuhi otakku.

       Lagi-lagi, aku hanya sanggup mengangguk. Lidahku mendadak kelu entah kenapa. Lelaki itupun duduk didepanku. Sebenarnya, lelaki itu tidak terlihat seperti seorang penculik, pedofil, pencuri atau apapun. Dia terlihat baik, ramah dan pastinya, dia cukup tampan.

      Dengan balutan sebuah celana khaki, kemeja putih dan jam tangan Rolex hitam yang melingkari tangan kirinya bersamaan dengan sebuah gelang karet hitam yang memiliki tulisan HOPE putih disana serta sepasang sepatu oxfords hitam yang ada ditubuhnya, lelaki itu sama sekali tidak terlihat seperti penjahat. Mungkin, ya memang mungkin, hanya logika konyolku saja yang telah membuatku nyaris salah menilainya. Melihat penampilannya, hatiku seakan teriris. Karena sepertinya, kondisi penampilanku dan dia saat itu memang sangat bertentangan. Dia terlihat begitu rapi dengan semuanya, sedangkan aku hanya mengenakan sebuah jins hitam, tanktop hitam yang dilapisi kemeja jins longgar serta sepasang wedges yang juga berwarna biru. Mungkin, satu-satunya hal mahal yang ada disekitarku saat itu hanyalah ponselku serta tas manik-manik yang beberapa bulan lalu aku beli di Dubai. Intinya ya, penampilanku sangat biasa saja dibandingkan si lelaki eksklusif didepanku yang kini sedang sibuk menyeruput minumannya.

     Entah ada apa yang telah merasukiku, aku mengulurkan tanganku. "Hmm, aku  Martha Abigail. Panggil Abby saja, people usually called me that way" ucapku sambil mengulurkan tangan dan berusaha menunjukkan sebuah senyum yang manis. Dia membalas uluran tanganku, menggenggamnya dengan erat dan tersenyum. "Austin. Austin Nathaniel. But you can call me Austin" balasnya sambil tersenyum. Tiba-tiba, disaat yang sama, jantungku mendadak berulah dan berdetak cepat.

      Buru-buru aku melepas tanganku dari genggamannya. "Wah, kebetulan temanku banyak yang namanya Austin. Can I just call you Nathan?" tanyaku jujur karena memang aku punya banyak sekali teman bernama Austin. Sampai-sampai, aku harus membubuhi sejumlah angka pada kontak ponselku yang bernama Austin.

      Dia tertawa pelan. Dheg. Entah mengapa, melihatnya tertawa seakan mengubah pandanganku secara spontan. Semuanya terkesan berbeda karena ada dia didekatku saat itu. Aku tidak merasakan lagi kesendirian ataupun kesepian yang sering aku rasakan dulu. Aku tidak merasakan lagi semua kesedihan yang biasanya menjadi alasanku datang kekafe ini. "Boleh. Tentu saja boleh. Kalau begitu, saya boleh juga dong memanggilmu Martha?" tanya Nathan sambil tersenyum menatapku. Lagi-lagi, secara dadakan perutku mulai berulah. Sepertinya, aku harus secepatnya memeriksakan kondisi tubuh dan sarafku pada neurologi ahli.

       "That seems fair enough" balasku yang saat itu tak sadar kalau aku sudah tersenyum merespon perkataannya. Sambil berusaha menghilangkan kegugupanku kapanpun bertemu orang asing, aku kembali menyeruput minumanku. Saat aku selesai melakukannya untuk beberapa detik, Nathan mengejutkanku dengan sebuah pertanyaan.

       "Kamu suka menulis, ya?"

       "Uhm, kok tahu?"

       "Maaf kalau lancang, tapi tadi saya sempat melihat isi bukumu itu. Penuh dengan coretan khas penulis"

       "Sebenarnya, aku juga masih amatir, sih. Nggak jago-jago banget"

       "Buat takaran amatir, tulisanmu nggak jelek-jelek banget juga, kok!" 

        Mendengarnya memujiku seakan membuat diriku melayang ketingkap ketujuh cakrawala. Aku tahu perkataan Nathan itu tulus. Aku tahu dia sungguh-sungguh mengungkapkannya tanpa ada tujuan khusus atau modus tertentu. 

        Aku tertawa canggung. "Anyway, tadi kenapa buku aku bisa ada sama Nathan ya?" tanyaku berusaha menetralkan suasana. Karena aku memang tidak terlalu suka menerima pujian berlebih. Tapi entah mengapa, pujian dari seorang Austin Nathaniel nyaris merubuhkan tembok yang dulu telah kubuat berhari-hari agar aku sanggup kebal terhadap perkataan orang lain.

        "Mbak yang dikasir itu yang minta tolong sama saya supaya kasih bukunya kekamu. Kayaknya tadi tertinggal dikasir" balasnya lagi-lagi sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan meciptakan sebuah huruf O pada bibirku. "What makes you visited this place then? I mean, actually I guess I've seen you here several times before now" tanyaku. Nathan terlihat mengerutkan keningnya. Disaat yang sama, aku pun merasa bahwa mungkin pertanyaan yang kulontarkan itu merupakan hal yang aneh, absurd atau apapun. 

        "Wah, berarti tebakan saya juga benar. Saya juga merasa seperti pernah melihatmu sebelumnya. Saya memang suka kesini, kok. Saya suka mencari inspirasi disini" balasnya singkat namun tegas dan langsung menjelaskan maknanya. "How about you, Martha?" tanyanya. Leherku serasa tercekat mendengar namaku disebut olehnya. Aneh memang. Tapi mendengar caranya menyebut namaku dengan benar, ejaan yang sempurna tanpa kesalahan sedikitpun terasa begitu menyenangkan.

        "Aku juga suka kesini. Tempatnya memang comfy banget dan yah, finding some inspirations phase works with me, too" balasku pelan sambil menatap iba piring bekas choco eclairku yang kini telah lenyap dan pindah kedalam perutku sepenuhnya. Entah ada angin apa, tiba-tiba aku malah menawarkan cinnamon rollku pada Nathan. Dia pun hanya menerima tawaranku itu dengan cuma-cuma.

        Sambil memandangi Nathan menyantap kudapannya, aku sadar ujung bibirku terangkat sedikit. Tak lama setelahnya, kami berdua pun terlarut dalam perbincangan yang cukup mengasyikkan. Aku dapat dengan mudah menyimpulkan kalau dia itu lelaki yang cerdas. Nathan bukanlah cowok yang hanya modal tampang atau materi yang berlagak keren dan selalu ingin diperhatikan. Dia merupakan salah satu cowok yang memiliki wawasan yang luas dikala hal itu menjadi salah satu hal yang sulit ditemukan saat ini.

         Dari ceritanya, aku mengetahui kalau Nathan menyukai fotografi. Fotografi itulah yang membuatnya selalu datang ketempat ini. Karena dia yakin, setiap seniman memiliki suatu tempat favorit yang akan menjadi sumber inspirasinya. Dia menunjukkan beberapa hasil fotonya dari iPad putih miliknya. 

        Spontan, aku lagi-lagi terpukau olehnya. Memang, Nathan tetap merendahkan diri dan mengatakan kalau hasil jepretannya itu biasa saja. Tapi toh, buat seseorang sepertiku yang tidak begitu fasih mengutak-atik kamera, yang pengetahuan tentang fotografinya masih sangat minim, aku berani bertaruh kalau hasil karya Nathan itu bukan hasil dari setting-an autofocus semata.

          "Wow, kamu hebat, ya!" pujiku tulus. Nathan terlihat malu-malu mendengarnya. Dia hanya tersenyum. Aku dapat melihat pipinya sedikit berubah kemerahan dan itu terlihat sangat menggemaskan. "Biasa saja. Kamu juga begitu, kok" ucapnya sambil tersenyum. Mungkin, mungkin aku perlu memperingatkan Nathan agar berhenti tersenyum. Karena kapanpun dia tersenyum, duniaku seakan dijungkirbalikkan olehnya.

          "Mungkin, kapan-kapan kita bisa berkolaborasi menciptakan suatu mahakarya" tuturnya tiba-tiba. Tatapannya terlihat tajam dan berapi-api, penuh dengan semangat dan passion yang entah bisa tiba-tiba muncul darimana. "I'd like to, that could be really fun!" seruku menggebu-gebu. 

          Disaat itulah aku sadar kalau semangat ternyata bisa menular juga. Even though it's contagious but it's not bad. Disaat yang sama juga, aku rasa aku telah jatuh cinta. Sebut ini konyol atau kekanak-kanakan. Tapi walaupun selama ini aku selalu menghina apapun yang berkaitan tentang cinta pada pandangan pertama, kayaknya inilah saat ketika semesta baru saja menamparku kalau tidak selamanya persepsi yang dibuat oleh logikaku akan selalu benar. Tidak selamanya.

          "Dan mungkin, dipertemuan selanjutnya, kamu sebaiknya mengganti kopimu itu dengan teh atau apapun yang sedikit lebih ringan" ucapnya sambil tersenyum. Kini, aku yang bingung mendengar ucapannya. "kenapa?" tanyaku polos. "Karena menurut saya, kamu sudah terlalu adiktif sama kopi, selain gigi bisa kuning, kadar kafein yang berlebih bagi seorang wanita juga tidak baik, Martha. Resikonya banyak. Kamu juga bisa kehilangan kecantikanmu itu, loh" lanjut Nathan.

          Jantungku seakan berhenti mendadak. Walau tidak secara langsung, tapi Nathan baru saja menyimpulkan kalau aku cantik. Gawat, kenapa jantungku berulah lagi, batinku. "Mungkin, aku bisa coba apapun minumanmu itu. Kayaknya itu enak" balasku sambil lagi-lagi menunjukkan senyumku.

          "Nih, mau coba?" balasnya tiba-tiba sambil menyodorkan gelasnya padaku. Seakan mengetahui keraguanku, dia malah mengulang pertanyaannya. "Kalau mau coba nggak apa-apa. Silakan" lanjutnya lagi. Apapun yang baru saja merasukiku saat itu, mungkin aku akan mengutuknya kini, entah mengapa, aku malah mengambil gelasnya dan meminumnya langsung. Rasanya enak, sih.

          "Itu Chai Tea Latte. Enak, kan?" tanyanya. Aku mengangguk pelan. "Kalau pesananmu itu, itu Java Chip Frappucino, kan?" tanya Nathan lagi. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, aku pun bingung mengapa setelah meminum sebuah minuman dari gelasnya, aku bisa tiba-tiba terbungkam.

          "Sebenarnya, saya juga suka Java Chip Frappucino, tapi saya memilih untuk mengurangi jumlah konsumsinya." jelas Nathan. Aku hanya mampu ber-oh ria. Semua yang terjadi hari ini sangatlah aneh. Tidak pernah aku membayangkan akan berada disini ditempat ini, bersama seseorang yang tidak pernah kubayangkan akan muncul dalam hidupku, dengan orang yang dulu mungkin kubayangkan sebagai orang yang tidak akan pernah cocok denganku, tapi kini sukses membuat hariku yang sebelumnya buruk berubah menjadi lebih berwarna, sukses menahanku untuk tetap berbincang bersamanya selama lima jam terakhir.

          Seakan tersadarkan akan waktu, walaupun aku masih sangat ingin berada disini, didekatnya, menghabiskan waktu bersamanya, aku sadar aku harus pulang sebelum orang rumah mulai memberiku deretan petuah yang sebenarnya cukup membosankan untuk didengar. Aku tahu memang tujuan mereka baik, tapi kadang, ada orang tua yang terlalu mengekang anaknya dan menganggap kalau anak mereka sama sekali tidak bisa menjaga diri dan etika. Tapi, sorry deh, aku bukan tipe perempuan yang tidak bisa menjaga diri. Buktinya, aku masih bisa menjaga rasa maluku, seperti sekarang ini.

         Sepertinya pikiranku dan Nathan memang terkoneksi. Saat dia melihatku merapikan barang-barangku yang berserakkan diatas meja, dia tiba-tiba berbicara. "Kamu sudah mau pulang, ya? Sekarang sudah malam. Saya antar kamu pulang saja, ya?" tanyanya mengajukan bantuan. Dengan cepat, aku menolak ajakannya. Karena aku memang masih tahu etika dan masih tahu kalau aku harus menjaga diri, menjaga image dan sedikit jual mahal. 

         Akhirnya, Nathan pun hanya mengantarku hingga ketempat orang-orang biasa menunggu taksi. Setelah aku mendapatkan taksi dan duduk didalamnya, tepat sebelum Nathan menutup pintu taksi itu, kami bertukar nomor handphone. Dia mengetikkan sederet angka pada ponsel touchscreenku. Aku pun melakukan hal yang sama pada ponselnya. Satu hal yang aku sadari, merek ponsel Nathan dan aku sama. Hanya berbeda warna. 

         Baru beberapa meter taksi yang kutumpangi berjalan, aku menerima sebuah sms.

 

From: Nathaniel, Austin 0877xxxxxxx7

Thank you for making my day became more awesome, Martha. Could we meet again, tomorrow? I'd like to spend some more time with a sophisticated girl like you. I also want to show you some of my photographs. :)

 

Tanpa menunggu lama, aku pun langsung mengangguk pelan dan sambil tersenyum, aku pun mengetikkan deretan kata sebagai balasan sms Nathan tersebut.

 

 

Reply to: Nathaniel, Austin 0877xxxxxxx7

From : Abigail, Martha 0878xxxxxxx7

 

Obviously! I’ll see you there, Nat. :)

 

Sebut aku ini mudah ditebak, tapi malam itu aku sungguh-sungguh tidak bisa tidur dengan pulas. Tidak, ini bukan merupakan efek kopi yang selama ini selalu masuk kedalam tubuhku. Walaupun aku memang penggila kopi, tapi aku sama sekali tidak pernah mengalami gangguan tidur karenanya. Aku ini juga merupakan tipe perempuan yang tidak akan sungkan maupun menolak untuk meluangkan waktu sejenak agar bisa tidur siang. Hanya saja, otakku daritadi sedang sibuk mereka ulang kejadian hari itu, semua yang telah berlalu hari itu, bahkan semua percakapan antara aku dan Nathan juga diulangnya dengan sempurna.

Hari baru pun akhirnya tiba. Aku yang hari ini memang agak sedikit lebih bersemangat sudah mempersiapkan diri agar bisa terlihat menarik didepan Nathan hari itu. Loh, ada apa denganku, kenapa tumben aku berpikiran kalau aku harus bisa terlihat menarik didepan orang? Batinku kebingungan.

Jarum jam masih menunjukkan pukul tiga sore tapi aku merasa lebih baik aku bergegas jalan menuju kafe favoritku, yang kini menjadi satu-satunya kafe yang paling aku cintai sepanjang masa. Aku akui, penampilanku hari ini memang terlihat sedikit berbeda. Aku mengenakan sebuah tea dress selutut berwarna broken white sederhana dan sepasang wedges putih. Tidak terlalu asal dan slebor seperti biasanya memang.

Setibanya dikafe, aku melihat sekeliling dan tidak menemukan Nathan disana. Hm, kayaknya telat memang akan selalu menjadi ciri khas cowok sepanjang masa, batinku. Saat aku hendak memesan minuman favoritku, tiba-tiba saja aku spontan menggantinya dengan sebuah pesanan yang baru pertama kali aku coba kemarin, yang rasanya belum begitu familiar dengan lidahku. Yup, Chai Tea Latte. I ordered that because he recommended me to.

Setengah jam telah berlalu setelah aku duduk dipojok favoritku, tempat yang sama dengan tempat aku dan Nathan bercengkrama kemarin. Namun Nathan masih belum muncul juga. Waktu terus berlalu hingga angka jam digital diponselku menunjukkan pukul setengah lima.

Sejenak, keraguan mulai merasukiku. Apakah dia lupa? Apakah Nathan hanya mempermainkanku? Apakah dia tahu kalau aku ini tipe perempuan lemah yang mungkin terlihat seperti mudah jatuh cinta? Apakah semua ini hanya efek dari modus terselubungnya? Apakah dia hanya mau menyakitiku? Aku berusaha menepis semua pikiran burukku tentang Nathan kala logika dan hatiku sibuk berperang.

          Tiba-tiba, seorang wanita yang kukenali sebagai salah satu pelayan kafe itu menghampiri mejaku. “Loh, mbak ngapain masih disini?” tanyanya. Aku melongo kebingungan, alisku tertaut. “Maksudnya?” tanyaku pada perempuan itu.

          “Mbak nggak tahu, ya?”

          “Nggak tahu apa?”

          Pelayan itu terlihat tidak yakin dengan jawabanku. “Tadi siang, mas yang kemarin disini sama mbak itu kesini kira-kira satu jam sebelum si mbak sampai disini, dia bawa kertas ini, dia titipin sama saya soalnya dia ada urusan sebentar dan akan balik lagi kesini nanti.” Katanya sambil menyodorkan sebuah map padaku. “Awalnya saya mau kasih sama si mbak, tapi saya nggak enak. Soalnya, setelah dia keluar dari kafe ini, mas itu tertabrak mobil pengantar barang. Si mas itu langsung dibawa kerumah sakit kok, mbak” lanjut wanita itu yang langsung membuat mataku terbelalak.

          “APA? NATHAN KECELAKAAN?!” pekikku panik tanpa memperdulikan orang-orang yang kini menatapku. Pelayan itu mengangguk pelan dan ragu. “Si mbak nya jangan kalut, tadi kayaknya saya dengar si mas itu dibawa kerumah sakit terdekat dari sini” ucap wanita itu dilanjutkan dengan menyebutkan sebuah nama rumah sakit yang kebetulan memang dekat dengan mall tersebut. “Si mbak, jalan sekarang saja. Mungkin si mas itu butuh keberadaan mbak disampingnya!” seru pelayan itu menyuruhku bergegas. Kini, ucapannya hanya kubalas dengan anggukan lesu.

Hatiku seakan telah dilempar dari puncak Semeru dan hancur menjadi serpihan pasir. Entah mengapa, aku merasakan mataku semakin panas. Tapi tidak, aku tidak boleh menangis. Aku adalah perempuan yang kuat, aku tegar. Aku pantang menangis, ulangku pada diri sendiri.

          Aku memasuki sebuah taksi dan menyebutkan tujuanku pada sang sopir. Aku masih berusaha menahan tangisku meledak. Aku teringat kembali dengan map cokelat yang katanya merupakan titipan Nathan untukku. Aku membuka lilitan talinya dan terkejut dengan isi map itu. Ada beberapa lembar foto dan sebuah lipatan kertas hvs putih yang penuh dengan tulisan. Anehnya, semua objek foto-foto tersebut adalah aku. Aku dengan semua ekspresi yang pernah kutunjukkan pada dunia. Aku dan pojok favoritku di kafe favoritku.

          How did he get all these pictures, batinku. Karena penasaran, aku membuka lipatan kertas itu perlahan. Tanpa menunggu lama, air mataku yang tadinya berusaha kutahan mati-matian mengalir saat membaca deretan kata yang telah dirangkai dan ditulis oleh Nathan.

 

Hai Martha Abigail,

Saya senang karena akhirnya saya bisa mengetahui namamu. Seperti tebakan saya, namamu pasti semanis dirimu. Mungkin, setelah kamu membaca surat ini, kamu bisa saja menjauhi saya karena merasa saya hanyalah seorang penggemar rahasia gila yang memiliki obsesi konyol pada seorang perempuan yang jelas-jelas tak akan pernah mau mengenalnya. Kamu punya hak untuk menjauhi saya setelah kamu membaca surat ini. Tapi sebelum hal itu terjadi, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan.

Saya telah jatuh cinta padamu semenjak tiga tahun lalu. Saya jatuh cinta pada perempuan yang dulu pernah secara tidak sengaja menumpahkan sedikit kopinya pada kemeja saya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang menatap saya sinis saat saya menduduki tempat favoritnya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang sepertinya selalu tenggelam dalam imajinasinya sendiri saat sedang sibuk berhadapan dengan laptop maupun buku catatannya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang akan selalu nyengir dan bukan tersenyum centil saat ada seseorang menyapanya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang suka diam-diam melantunkan lagu-lagu Oasis yang mungkin ganjil bagi sebagian orang. Suaramu bagus, Martha. Kamu perlu tahu itu.

Saya jatuh cinta pada perempuan yang selalu kesal kalau signal ponselnya mendadak memburuk. Saya jatuh cinta pada perempuan yang selalu berdandan sederhana namun tetap tahu bagaimana cara agar terlihat istimewa namun tidak pasaran maupun murahan. Saya jatuh cinta pada satu-satunya perempuan yang pernah menawarkan cinnamon roll pada saya. Saya jatuh cinta pada satu-satunya perempuan yang tahu kalau saya juga menyukai fotografi. Saya jatuh cinta pada perempuan pertama yang memuji hasil karya saya. Berikut ini adalah foto perempuan itu. Saya mengakuinya. Saya mencintaimu Martha. That’s all what you need to know. Maafkan saya kalau saya memang terkesan layaknya penguntit. Memang selama ini saya hanya sanggup mengamatimu dari jauh. Saya hanya tidak mau mengusikmu. Saya bersyukur karena akhirnya Tuhan mengizinkan saya agar bisa mengenalmu lebih dalam. Saya bersyukur karena akhirnya kesempatan itu datang. Semua memang butuh waktu. Saya tahu itu. Kalaupun nanti kamu malah menjauhi saya karena status saya, saya sudah siap untuk menerima keputusannya. Bahkan jikalau kedepannya Tuhan mengizinkan saya untuk bisa mengenalmu lebih jauh, saya berjanji akan selalu ada untukmu dan tetap mencintaimu, hingga nafas terakhir saya berlalu.

 

Tertanda,

Austin Nathaniel Gerard a.k.a Austin Gerard

 

          Aku sangat terkejut karena ditengah-tengah semua hal yang menurutku sangat kacau, ditengah semua masalah yang datang dan pergi dalam kehidupanku, ternyata ada seseorang yang mengenal aku nyaris sedalam aku mengenali diriku sendiri. Ada orang yang telah ditakdirkan untuk selalu ada untukku. Ada orang yang telah ditakdirkan untuk mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya. Orang itupun bukan orang sembarangan. Nama seorang Austin N. Gerard bukanlah nama biasa-biasa saja. Jujur, aku sudah sering mendengar nama itu diberita maupun membacanya diartikel-artikel online. Terbukti, Nathan bukanlah orang biasa. Dari semua berita tentang Nathan yang mungkin sedikit tersangkut didalam otaknya, Nathan merupakan salah satu pewaris sebuah perusahaan yang sedang naik daun.

Tepat setelah aku selesai membaca surat dari Nathan, taksi yang kutumpangi tiba disebuah pintu UGD salah satu rumah sakit. Tanpa meminta kembalian, akuberlari memasuki pintu masuk ruang UGD yang besar dan bercat putih.

Aku mengedarkan pandanganku. Berusaha menemukan Nathan. Mungkin dengan cara yang sama seperti cara dia menemukanku dulu. Tapi aku tidak menemukan dia. “Sus, disini kenapa nggak ada pasien yang bernama Austin Nathaniel Gerard, ya?” Tanyaku agak waswas saat menyebutkan marga Nathan. Nanti aku dikira macam-macam, lagi.

“Ohh, keluarga Gerard memindahkan dia kekamar VIP lantai tiga puluh delapan, mbak” balas suster itu. Tanpa menunggu lama, aku berjalan menuju lift, masuk kedalamnya dan dengan hati yang sangat kalut saat itu, aku memencet tombol bertuliskan angka laknat, angka lantai tempat Nathan berada. Aku sedikit lega karena Nathan ternyata masih hidup. Hanya saja, aku tidak bisa menebak bagaimana kondisinya sekarang.

Begitu lift terbuka, disanalah aku melihat semuanya.

Nathan sedang berbaring diatas sebuah kasur rumah sakit. Kepalanya diperban dan tangannya digips. Kondisinya cukup mengenaskan dan lumayan mengiris hati. Namun disana dia tidak sendirian. Ada seorang wanita paruh baya sedang duduk disampingnya. Keduanya sedang tersenyum dan mereka mirip. Instingku spontan menyimpulkan kalau itulah ibunda Nathan. Wanita yang telah berhasil membesarkan anaknya menjadi sesosok pria yang pasti diidam-idamkan oleh setiap kaum hawa normal lainnya.

Sepertinya semesta mengetahui pikiranku. Saat aku masih berdiri terpaku didepan lift, Nathan menoleh kearahku. Dia terlihat sedikit terkejut, namun dia berhasil mengusir keterkejutannya dan memberi sebuah senyuman manis yang membuat perasaan khawatirku luruh. Tanpa perlu ditanyakan, gemuruh degup jantung yang semakin menjadi-jadi akhirnya mulai terdengar.

Layaknya dua kutub magnet berlawanan yang memang telah ditakdirkan untuk saling menempel jika bertemu, kakiku melangkah mendekatinya. Aku melihat Nathan melirik ibunya pelan. Dia mendapati sebuah senyum haru dan rona bahagia dari ibunya. Senyumnya terlihat semakin merekah. Lagi-lagi, senyum itu yang menghilangkan semua hal negatif dari hati dan pikiranku.

“Kamu datang” ucapnya grogi. Aku mengangguk. Tak dapat disangkal, senyumku menunjukkan dirinya. “You already knew that I’ll always be near you, right? So here I am, Nath” balasku pelan.

You’ve read my letter, haven’t you?”

Lagi-lagi aku hanya sanggup menganggu. Bahkan, dalam kondisi seperti inipun, Nathan masih sanggup membisukanku dengan pesonanya. Nathan menarik nafas berat lalu membuangnya perlahan. “Kamu sudah baca semuanya, kan? Kamu sudah tahu semuanya. Bahkan, kamu sudah tahu siapa saya. Kalaupun kamu merasa perempuan yang terlalu istimewa sepertimu tidak pantas bersama seseorang seperti saya, kamu punya pilihan itu, kamu berhak meninggalkan saya” tuturnya pelan yang langsung membuat mataku terbelalak melotot tak percaya. 

“Ih, apa sih kamu kenapa ngomong begitu? Aku baru sampai begini udah ngusir aja, ya” protesku sambil memonyongkan bibir. Jujur, aku memang kesal karena perkataannya. Ngapain juga dia harus insecure begitu. Kalaupun disini ada yang harus insecure, orang itu jelas adalah aku, kan?

Nathan tersenyum geli mendengar ucapanku yang sepertinya terdengar bagai perkataan orang ngos-ngosan yang habis disuruh lari seratus putaran mengitari GBK. Entah mengapa, tiba-tiba aku menggenggam tangan kanan Nathan dan mengatakan kata-kata yang membungkamnya kira-kira lima menit. “Even if I knew that I do have the options to leave and I could simply choose that, do I really have to go? Did you also want me to leave? I know none of us expected so.”

Nathan tak mengucapkan sepatah katapun, dia hanya menarikku mendekat, merangkulku dalam dekapannya. Disaat yang sama, aku merasa aman, aku merasa nyaman, aku merasa aku dicintai, aku merasa semua ketakutanku akan kesendirian akhirnya seluruhnya telah hilang, aku merasa semua hal ini kekal, infinite, abadi, indah, ya begitu lah.

“Oiya, maaf ya Nath, soal kopi yang waktu itu aku tumpahin di…” perkataanku terhenti karena Nathan sudah lebih dulu meletakkan jari telunjuknya dibibirku. Dia tersenyum merespon perkataanku. “Mam, daritadi aku belum kenalin mami ke Martha” ucapnya sambil tersenyum bahagia kearah wanita yang tadi memang sudah kutebak sebagai ibunya. Wanita itu tersenyum lebih bahagia menatap Nathan dan aku. “Ini Martha Abigail mam. Pacar aku!” serunya bahagia yang langsung membuat lututku lemas, jantungku semakin bermain drum dan lidahku kelu, lagi. Ibunda Nathan menghampiriku dan memelukku. Everything makes me feel like home, recently.

“Sejak kapan, ya?” bisikku didekat telinganya. “Sejak barusan aku ngomong begitu!” balasnya sambil menunjukkan cengiran yang mungkin sedikit mirip dengan milikku. “Eh, kamu bawain Chai Tea Latte itu buat aku, ya?” Tanya Nathan yang masih merangkulku yang masih terkejut namun bahagia luar biasa.

“Enak aja, ini tadi aku beli waktu aku nunggu kamu tahu!” protesku sambil menarik kembali gelas plastik berisi Chai Tea Latte yang barusan sudah berpindah tangan dari tanganku ketangannya.

But I guess, we could simply share it. As the exact same way we’re gonna share our story from now on, aren’t we?” ucapku sambil menyodorkan gelas Chai Tea Latte pada Nathan, membuat senyumnya lagi-lagi merekah. “Sama seperti kita akan membagi pojok favorit kita dikafe, kan?” tanyanya menggodaku. Hih, sepertinya dia sudah mengetahui kelemahanku. Mau tak mau, aku mengangguk malu-malu, sekaligus gemas. “As long as you promise me that you would tell me whenever you want to take a pic of me, okay!” balasku yang langsung membuatnya tergelak.

 

 

Every once in a while, someone comes into your life and makes you feel very special without him/her trying hard to do that. They are just doing their stuffs effortlessly, but all of those effortless behaviors and actions they have done made some mark in your heart and they opened your eyes if love does exist.

That someone whom we thought were very different than ourselves, whether physically, emotionally, financially or whatever. But love never accept any kind of excuses, when God has allowed it to happen, it eventually happens.

Love could change you, it could give you the strength to give and spread the love itself, even encourage you to return the love that someone special has given to you. We all know that love is not a because but it is a no matter what. It normally comes when you least expect it. Just take a deep breath, breathe in, breathe out. Just believe that God has prepared the right person for you, the one that will love you no matter what. Just dance with God, sooner or maybe later, God will let the perfect person cuts in.

Saturday, April 20

Lupa... I know I might have not reached this phase, but soon I'll be forgetting everything, probably anything.

Selamat malam semuanya.
Hehehe, it's almost midnight in my place right now.

Awalnya sih, aku buka blog karena bosen nggak ada inspirasi buat tulisanku yang sudah dikejar deadline and stuffs like that ya.
Tapi, karena inspirasi yang tadinya aku cari diblogger malah membawaku kesebuah tempat yang cukup unpredictable, akhirnya aku memutuskan untuk membuat sebuah post yang sebenarnya sih, aku belum tahu mau dikasih judul apa, but we'll see, soon or later I bet I'll get an inspiration to give this post an appropriate tittle.

Sebelumnya, aku mau tanya sesuatu dulu nih buat teman-teman readers semuanya...

Pernah nggak sih kalian berusaha melupakan seseorang atau sesuatu yang entah kenapa, semakin kalian berusaha melupakan orang itu, kalian malah semakin teringat dengan keberadaan orang itu atau bahkan dengan sejumlah moments atau memories yang dulu pernah kalian lewati bersama?

Pernah nggak kalian berulang kali mengumbar pada dunia kalau kalian telah sukses berhasil melupakan atau membuang masa lalu yang mungkin bagi kalian nggak selayaknya diingat atau dialami oleh sebagian orang, tapi sayangnya kalian malah mengalaminya?

Pernah nggak kalian terpaksa berbohong pada dunia kehidupan sekarang kalau masa lalu itu nggak punya bekas maupun jejak sedikitpun dalam diri atau pribadi kalian yang sekarang?

Baru saja aku baca artikel tentang human's memory dan artikel itu bikin aku sadar kalau kinerja memori manusia memang unik. The way human memory works sungguh unpredictable.

Pada dasarnya, ingatan kitalah yang akan membentuk diri kita. Kebiasaan kita dimasa lalu, ideologi kita, harapan kita dan ketakutan kita pada apapun pasti semua dipengaruhi oleh apa yang kita ingat dan telah terjadi dimasa lalu kita.

Memang, semua yang ada dimasa lalu itu memang nggak akan pernah bisa diubah lagi, whatever happened, they're already happened and they're gone because the wind took them all away without alarming.

Tapi, etis nggak sih, sopan nggak sih kalau kita sampai harus berbohong pada dunia tempat kita berada kalau ada suatu bagian dari masa lalu yang kita buang, kita kucilkan, kita tendang jauh-jauh dan kita anggap semuanya itu nggak pernah ada.

Sama saja kayak kita udah bikin coret-coretan plot naskah diselembar kertas yang tadinya putih, akhirnya kertas itu penuh dengan tulisan, bahkan ada beberapa bagian yang kita tandai dengan stabilo atau some underlines karena parts tersebut cukup berarti bagi kita.
But suddenly, karena sebuah kejadian yang memang bisa disebut musibah, bisa jadi karena emosi, dendam atau entah apa yang jelas berkaitan dengan human's anger, kertas itu kita robek-robek, kita hancurkan, bakar, whatever deh, supaya semuanya lenyap, instantly gone forever.

Hanya saja, pernah nggak terlintas dibenak kamu kalau Tuhan melihat segalanya? So do angels and the people who are or even were close to you. Seberapapun usaha kamu buang segala memori masa lalu itu, seberapa besarpun usaha kamu mengumbar kalimat yang terdiri dari untaian kata yang berusaha meyakinkan masyarakat kalau kamu nggak pernah ada difase apapun yang kamu ingin sekali lupakan, apa kamu nggak capek berbohong?

Apa kamu nggak lelah acting terus dan menganggap semuanya udah lalu, semuanya sampah?

Apa kamu nggak ngerasa kalau kali aja, ada pihak yang bisa merasa dirugikan dengan tindakanmu yang tidak bersyukur dan menuntut lebih pada kehidupan?

Atau barangkali, kamu melakukan itu semua karena kamu nggak puas dengan masa lalumu itu?
kamu berharap lebih, kamu berusaha mendapatkan lebih dan akhirnya, kamu membuang semuanya itu dan menciptakan cerita baru lagi?

If that's what you do, I should say what you're doing is such a concrete cliché, it's hilarious.

If you're wondering have I already forgotten what we once have been through, I would proudly admit no I haven't. I still can't. you can call me with "cie susah move on or whatever" but I actually have learned so many lessons from stuffs I experienced on my past and I'm thankful for every moments God's given to me.
Thankful for the happiness, sadness, everything...
because my past made me the girl I am right now.....


Love,
Steph....