Salahkah aku jika aku berharap?
Salahkah aku jika aku
menanti?
Salahkah aku jika aku
bertahan?
Bertahan sekuat raga dan
berharap semampu jiwa,
berusaha menuntaskan
penantian panjang yang hati ini telah rindukan sejak lama.
Mengharapkan kehadiran
sosok yang akan hadir disini,
dan menerima sebagaimana
adanya aku,
tanpa adanya keraguan
sedikitpun.
Dia,
yang bisa mengertiku
tanpa aku harus memintanya terlebih dahulu,
dia yang akan selalu
menarikku agar kembali kejalanku disaat aku nyaris tergelincir,
dia yang akan
menggenggam erat tanganku,
meyakinkanku kalau kita
sanggup,
dia yang akan
menuntunku, membimbingku serta berjalan bersamaku
saat aku harus menapaki
deretan anak tangga kehidupan
yang memang tidak akan
pernah stabil kapanpun aku kehilangan harapan
Dengan tergesa-gesa, aku memasuki salah satu kafe favoritku
didaerah Jakarta Selatan pada siang (menjelang sore) itu. Aroma kenikmatan kopi
dengan cepat langsung menggugah seleraku. Senyuman dan keramahan para pelayan
kafe juga telah menyongsongku sejak beberapa detik sebelumnya.
Tanpa menunggu lama, setelah aku memberikan sejumlah uang pada pelayan
kafe yang melayaniku saat itu, nampan berisi segelas dingin Java Chip
Frappucino dengan ekstra whipped cream kesukaanku akhirnya sudah berada didalam
genggaman tangan kananku. Begitu juga dengan sepiring choco eclair dan cinnamon
roll yang terlihat begitu cantik serta menggoda. Aku pun berjalan menuju salah
satu sudut tempat itu, menghampiri bangku kejayaanku, maksudku bangku favoritku
selama tiga tahun terakhir sejak pertama kalinya aku jatuh cinta pada kafe ini.
Aku mengeluarkan ponselku dan memeriksanya sekilas. Tak ada pesan masuk, seperti tebakanku. Mau aku ada dimanapun, dunia
ini seakan terlalu sibuk dengan kehidupannya. Semua orang terlalu sibuk dengan
kehidupannya sendiri. Itu memang bukan masalah yang cukup besar bagiku. Toh hal
itu terbukti, aku rasa aku bisa hidup
tanpa bantuan orang-orang yang tidak pernah peduli denganku.
Baru sebentar aku menikmati kesendirianku, menyeruput minumanku dan
menusukkan garpu (maksudku memotong kecil-kecil) kudapan ringanku sore itu,
seseorang tiba-tiba sudah berada didepanku. Aku memang belum menengadahkan
wajahku untuk menatapnya, tapi dari bayangan yang tiba-tiba menghalangi pancaran
lampu diatas mejaku, aku yakin sosok itu adalah sosok seorang lelaki atau
mungkin seorang perempuan yang bertubuh besar dan tinggi. Oke, opsi kedua
memang terdengar sangat impossible.
"Permisi, notebook ini punya kamu,
bukan?" tanya orang itu.
Refleks, aku pun mengangkat wajahku dan disaat yang sama, mataku terpaut
dengannya. Disana berdiri seseorang yang memang aku telah kenal, well, mungkin
tidak secara langsung, tapi aku tahu aku sering melihatnya. Entah didalam
mimpiku atau bahkan realita. Lelaki ini, aku sering melihatnya datang ketempat
ini juga. Dia juga pernah muncul kedalam mimpiku saat aku terlelap entah berapa
kali. Memang aneh. Aku tahu ini aneh.
Lelaki itu memegang sebuah gelas yang dapat kuperkirakan isinya merupakan salah
satu jenis teh, atau semacamnya. Karena warnanya tidak sepekat kopi yang ada
digelasku. Tangannya yang lain menyodorkan notebook biru yang selalu kubawa
kemanapun kakiku ini melangkah. Lelaki itu tiba-tiba menyunggingkan sebuah
senyuman. Senyuman canggung yang entah mengapa terlihat manis dimataku.
Seakan tersadarkan dari bayangan aneh yang merasuki otakku, aku pun akhirnya
kembali kerealita dan membuyarkan tatapan konyol yang jelas sedaritadi telah
kutujukan untuknya. "Uhm, eh, iya, itu punyaku. Terimakasih" ucapku
tergagap, sambil berusaha tersenyum. Sebuah senyuman yang mungkin kini bisa
dideskripsikan mirip cengiran seekor anak cheetah. Misterius, mengerikan,
apapun lah.
"You're welcome, miss"
balasnya. Aku menyeruput minumanku lagi sambil menganggukkan kepala pelan lalu
memasukkan notebook biruku yang tadi entah mengapa bisa ada ditangan lelaki
itu. "Boleh nggak saya duduk disini?" tanya cowok itu tiba-tiba.
Disini yang dia maksudkan ternyata adalah didepanku.
Walaupun ini terdengar aneh, tapi aku tidak bisa menolaknya. Aku bisa merasakan
barisan peringatan muncul didalam otakku layaknya barisan iklan baris pada
sebuah stasiun televisi yang tidak pernah berhenti sedetikpun. Hati hati dia bisa saja orang jahat. Seperti itulah inti peringatan yang memenuhi
otakku.
Lagi-lagi, aku hanya sanggup mengangguk. Lidahku mendadak kelu entah
kenapa. Lelaki itupun duduk didepanku. Sebenarnya, lelaki itu tidak terlihat
seperti seorang penculik, pedofil, pencuri atau apapun. Dia terlihat baik, ramah
dan pastinya, dia cukup tampan.
Dengan balutan sebuah celana khaki, kemeja putih dan jam tangan Rolex hitam
yang melingkari tangan kirinya bersamaan dengan sebuah gelang karet hitam yang
memiliki tulisan HOPE putih disana serta sepasang sepatu oxfords hitam yang ada
ditubuhnya, lelaki itu sama sekali tidak terlihat seperti penjahat. Mungkin, ya
memang mungkin, hanya logika konyolku saja yang telah membuatku nyaris salah
menilainya. Melihat penampilannya, hatiku seakan teriris. Karena sepertinya,
kondisi penampilanku dan dia saat itu memang sangat bertentangan. Dia terlihat
begitu rapi dengan semuanya, sedangkan aku hanya mengenakan sebuah jins hitam,
tanktop hitam yang dilapisi kemeja jins longgar serta sepasang wedges yang juga
berwarna biru. Mungkin, satu-satunya hal mahal yang ada disekitarku saat itu
hanyalah ponselku serta tas manik-manik yang beberapa bulan lalu aku beli di
Dubai. Intinya ya, penampilanku sangat biasa saja dibandingkan si lelaki
eksklusif didepanku yang kini sedang sibuk menyeruput minumannya.
Entah ada apa yang telah merasukiku, aku mengulurkan tanganku. "Hmm,
aku Martha Abigail. Panggil Abby saja, people usually called me that way" ucapku sambil mengulurkan tangan dan
berusaha menunjukkan sebuah senyum yang manis. Dia membalas uluran tanganku,
menggenggamnya dengan erat dan tersenyum. "Austin. Austin Nathaniel. But you can call me Austin" balasnya sambil tersenyum.
Tiba-tiba, disaat yang sama, jantungku mendadak berulah dan berdetak cepat.
Buru-buru aku melepas tanganku dari genggamannya. "Wah, kebetulan temanku
banyak yang namanya Austin. Can I just call you Nathan?" tanyaku jujur karena memang aku
punya banyak sekali teman bernama Austin. Sampai-sampai, aku harus membubuhi
sejumlah angka pada kontak ponselku yang bernama Austin.
Dia
tertawa pelan. Dheg. Entah mengapa, melihatnya tertawa seakan mengubah
pandanganku secara spontan. Semuanya terkesan berbeda karena ada dia didekatku
saat itu. Aku tidak merasakan lagi kesendirian ataupun kesepian yang sering aku
rasakan dulu. Aku tidak merasakan lagi semua kesedihan yang biasanya menjadi
alasanku datang kekafe ini. "Boleh. Tentu saja boleh. Kalau begitu, saya
boleh juga dong memanggilmu Martha?" tanya Nathan sambil tersenyum
menatapku. Lagi-lagi, secara dadakan perutku mulai berulah. Sepertinya, aku
harus secepatnya memeriksakan kondisi tubuh dan sarafku pada neurologi ahli.
"That seems fair enough" balasku yang saat itu tak sadar
kalau aku sudah tersenyum merespon perkataannya. Sambil berusaha menghilangkan
kegugupanku kapanpun bertemu orang asing, aku kembali menyeruput minumanku.
Saat aku selesai melakukannya untuk beberapa detik, Nathan mengejutkanku dengan
sebuah pertanyaan.
"Kamu suka menulis, ya?"
"Uhm, kok tahu?"
"Maaf kalau lancang, tapi tadi saya sempat melihat isi bukumu itu.
Penuh dengan coretan khas penulis"
"Sebenarnya, aku juga masih amatir, sih. Nggak jago-jago
banget"
"Buat takaran amatir, tulisanmu nggak jelek-jelek banget juga,
kok!"
Mendengarnya memujiku seakan membuat diriku melayang ketingkap ketujuh
cakrawala. Aku tahu perkataan Nathan itu tulus. Aku tahu dia sungguh-sungguh
mengungkapkannya tanpa ada tujuan khusus atau modus tertentu.
Aku tertawa canggung. "Anyway, tadi kenapa buku aku bisa ada
sama Nathan ya?" tanyaku berusaha menetralkan suasana. Karena aku memang
tidak terlalu suka menerima pujian berlebih. Tapi entah mengapa, pujian dari
seorang Austin Nathaniel nyaris merubuhkan tembok yang dulu telah kubuat
berhari-hari agar aku sanggup kebal terhadap perkataan orang lain.
"Mbak yang dikasir itu yang minta tolong sama saya supaya kasih
bukunya kekamu. Kayaknya tadi tertinggal dikasir" balasnya lagi-lagi
sambil tersenyum. Aku hanya membalasnya dengan meciptakan sebuah huruf O pada
bibirku. "What makes you visited this place then? I mean, actually I guess I've seen you here several
times before now" tanyaku. Nathan
terlihat mengerutkan keningnya. Disaat yang sama, aku pun merasa bahwa mungkin
pertanyaan yang kulontarkan itu merupakan hal yang aneh, absurd atau
apapun.
"Wah, berarti tebakan saya juga benar. Saya juga merasa seperti
pernah melihatmu sebelumnya. Saya memang suka kesini, kok. Saya suka mencari
inspirasi disini" balasnya singkat namun tegas dan langsung menjelaskan
maknanya. "How about you, Martha?" tanyanya. Leherku serasa
tercekat mendengar namaku disebut olehnya. Aneh memang. Tapi mendengar caranya
menyebut namaku dengan benar, ejaan yang sempurna tanpa kesalahan sedikitpun
terasa begitu menyenangkan.
"Aku juga suka kesini. Tempatnya memang comfy banget dan yah, finding
some inspirations phase works with me, too" balasku pelan
sambil menatap iba piring bekas choco eclairku yang kini telah lenyap dan
pindah kedalam perutku sepenuhnya. Entah ada angin apa, tiba-tiba aku malah
menawarkan cinnamon rollku pada Nathan. Dia pun hanya menerima tawaranku itu
dengan cuma-cuma.
Sambil memandangi Nathan menyantap kudapannya, aku sadar ujung bibirku
terangkat sedikit. Tak lama setelahnya, kami berdua pun terlarut dalam
perbincangan yang cukup mengasyikkan. Aku dapat dengan mudah menyimpulkan kalau
dia itu lelaki yang cerdas. Nathan bukanlah cowok yang hanya modal tampang atau
materi yang berlagak keren dan selalu ingin diperhatikan. Dia merupakan salah
satu cowok yang memiliki wawasan yang luas dikala hal itu menjadi salah satu
hal yang sulit ditemukan saat ini.
Dari ceritanya, aku mengetahui kalau Nathan menyukai fotografi.
Fotografi itulah yang membuatnya selalu datang ketempat ini. Karena dia yakin,
setiap seniman memiliki suatu tempat favorit yang akan menjadi sumber
inspirasinya. Dia menunjukkan beberapa hasil fotonya dari iPad putih
miliknya.
Spontan, aku lagi-lagi terpukau olehnya. Memang, Nathan tetap
merendahkan diri dan mengatakan kalau hasil jepretannya itu biasa saja. Tapi
toh, buat seseorang sepertiku yang tidak begitu fasih mengutak-atik kamera,
yang pengetahuan tentang fotografinya masih sangat minim, aku berani bertaruh
kalau hasil karya Nathan itu bukan hasil dari setting-an autofocus semata.
"Wow, kamu hebat, ya!" pujiku tulus. Nathan terlihat
malu-malu mendengarnya. Dia hanya tersenyum. Aku dapat melihat pipinya sedikit
berubah kemerahan dan itu terlihat sangat menggemaskan. "Biasa saja. Kamu
juga begitu, kok" ucapnya sambil tersenyum. Mungkin, mungkin aku perlu
memperingatkan Nathan agar berhenti tersenyum. Karena kapanpun dia tersenyum,
duniaku seakan dijungkirbalikkan olehnya.
"Mungkin, kapan-kapan kita bisa berkolaborasi menciptakan
suatu mahakarya" tuturnya tiba-tiba. Tatapannya terlihat tajam dan
berapi-api, penuh dengan semangat dan passion yang entah bisa
tiba-tiba muncul darimana. "I'd like to, that could be really fun!"
seruku menggebu-gebu.
Disaat itulah aku sadar kalau semangat ternyata bisa menular
juga. Even though it's contagious but it's not bad.
Disaat yang sama juga, aku rasa aku telah jatuh cinta. Sebut ini konyol atau
kekanak-kanakan. Tapi walaupun selama ini aku selalu menghina apapun
yang berkaitan tentang cinta pada pandangan pertama, kayaknya inilah saat
ketika semesta baru saja menamparku kalau tidak selamanya persepsi yang dibuat
oleh logikaku akan selalu benar. Tidak selamanya.
"Dan mungkin, dipertemuan selanjutnya, kamu sebaiknya
mengganti kopimu itu dengan teh atau apapun yang sedikit lebih ringan"
ucapnya sambil tersenyum. Kini, aku yang bingung mendengar ucapannya. "kenapa?"
tanyaku polos. "Karena menurut saya, kamu sudah terlalu adiktif sama kopi,
selain gigi bisa kuning, kadar kafein yang berlebih bagi seorang wanita juga
tidak baik, Martha. Resikonya banyak. Kamu juga bisa kehilangan kecantikanmu
itu, loh" lanjut Nathan.
Jantungku seakan berhenti mendadak. Walau tidak secara langsung,
tapi Nathan baru saja menyimpulkan kalau aku cantik. Gawat, kenapa jantungku
berulah lagi, batinku. "Mungkin, aku bisa coba apapun minumanmu itu.
Kayaknya itu enak" balasku sambil lagi-lagi menunjukkan senyumku.
"Nih, mau coba?" balasnya tiba-tiba sambil menyodorkan
gelasnya padaku. Seakan mengetahui keraguanku, dia malah mengulang
pertanyaannya. "Kalau mau coba nggak apa-apa. Silakan" lanjutnya
lagi. Apapun yang baru saja merasukiku saat itu, mungkin aku akan mengutuknya
kini, entah mengapa, aku malah mengambil gelasnya dan meminumnya langsung.
Rasanya enak, sih.
"Itu Chai Tea Latte. Enak, kan?" tanyanya. Aku
mengangguk pelan. "Kalau pesananmu itu, itu Java Chip Frappucino,
kan?" tanya Nathan lagi. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, aku pun bingung
mengapa setelah meminum sebuah minuman dari gelasnya, aku bisa tiba-tiba
terbungkam.
"Sebenarnya, saya juga suka Java Chip Frappucino, tapi saya
memilih untuk mengurangi jumlah konsumsinya." jelas Nathan. Aku hanya
mampu ber-oh ria. Semua yang terjadi hari ini sangatlah aneh. Tidak pernah aku membayangkan
akan berada disini ditempat ini, bersama seseorang yang tidak pernah
kubayangkan akan muncul dalam hidupku, dengan orang yang dulu mungkin
kubayangkan sebagai orang yang tidak akan pernah cocok denganku, tapi kini
sukses membuat hariku yang sebelumnya buruk berubah menjadi lebih berwarna,
sukses menahanku untuk tetap berbincang bersamanya selama lima jam terakhir.
Seakan tersadarkan akan waktu, walaupun aku masih sangat ingin
berada disini, didekatnya, menghabiskan waktu bersamanya, aku sadar aku harus
pulang sebelum orang rumah mulai memberiku deretan petuah yang sebenarnya cukup
membosankan untuk didengar. Aku tahu memang tujuan mereka baik, tapi kadang,
ada orang tua yang terlalu mengekang anaknya dan menganggap kalau anak mereka
sama sekali tidak bisa menjaga diri dan etika. Tapi, sorry deh, aku bukan tipe
perempuan yang tidak bisa menjaga diri. Buktinya, aku masih bisa menjaga rasa
maluku, seperti sekarang ini.
Sepertinya pikiranku dan Nathan memang terkoneksi. Saat dia
melihatku merapikan barang-barangku yang berserakkan diatas meja, dia tiba-tiba
berbicara. "Kamu sudah mau pulang, ya? Sekarang sudah malam. Saya antar
kamu pulang saja, ya?" tanyanya mengajukan bantuan. Dengan cepat, aku
menolak ajakannya. Karena aku memang masih tahu etika dan masih tahu kalau aku
harus menjaga diri, menjaga image dan sedikit jual mahal.
Akhirnya, Nathan pun hanya mengantarku hingga ketempat orang-orang
biasa menunggu taksi. Setelah aku mendapatkan taksi dan duduk didalamnya, tepat
sebelum Nathan menutup pintu taksi itu, kami bertukar nomor handphone. Dia
mengetikkan sederet angka pada ponsel touchscreenku. Aku pun melakukan hal yang
sama pada ponselnya. Satu hal yang aku sadari, merek ponsel Nathan dan aku
sama. Hanya berbeda warna.
Baru beberapa meter taksi yang kutumpangi berjalan, aku menerima
sebuah sms.
From: Nathaniel, Austin
0877xxxxxxx7
Thank you for making my
day became more awesome, Martha. Could we meet
again, tomorrow? I'd like to spend some more time with a sophisticated girl like
you. I also want to show you some of my photographs. :)
Tanpa menunggu lama, aku
pun langsung mengangguk pelan dan sambil tersenyum, aku pun mengetikkan deretan
kata sebagai balasan sms Nathan tersebut.
Reply to: Nathaniel,
Austin 0877xxxxxxx7
From : Abigail, Martha
0878xxxxxxx7
Obviously! I’ll see you
there, Nat. :)
Sebut aku ini mudah
ditebak, tapi malam itu aku sungguh-sungguh tidak bisa tidur dengan pulas.
Tidak, ini bukan merupakan efek kopi yang selama ini selalu masuk kedalam
tubuhku. Walaupun aku memang penggila kopi, tapi aku sama sekali tidak pernah
mengalami gangguan tidur karenanya. Aku ini juga merupakan tipe perempuan yang
tidak akan sungkan maupun menolak untuk meluangkan waktu sejenak agar bisa
tidur siang. Hanya saja, otakku daritadi sedang sibuk mereka ulang kejadian
hari itu, semua yang telah berlalu hari itu, bahkan semua percakapan antara aku
dan Nathan juga diulangnya dengan sempurna.
Hari baru pun akhirnya tiba. Aku yang hari ini
memang agak sedikit lebih bersemangat sudah mempersiapkan diri agar bisa
terlihat menarik didepan Nathan hari itu. Loh, ada apa denganku, kenapa tumben
aku berpikiran kalau aku harus bisa terlihat menarik didepan orang? Batinku kebingungan.
Jarum jam masih menunjukkan pukul tiga sore tapi
aku merasa lebih baik aku bergegas jalan menuju kafe favoritku, yang kini menjadi
satu-satunya kafe yang paling aku cintai sepanjang masa. Aku akui, penampilanku
hari ini memang terlihat sedikit berbeda. Aku mengenakan sebuah tea dress
selutut berwarna broken white sederhana dan sepasang wedges putih. Tidak
terlalu asal dan slebor seperti biasanya memang.
Setibanya dikafe, aku melihat sekeliling dan
tidak menemukan Nathan disana. Hm, kayaknya telat memang akan selalu menjadi
ciri khas cowok sepanjang masa, batinku. Saat aku hendak memesan minuman
favoritku, tiba-tiba saja aku spontan menggantinya dengan sebuah pesanan yang
baru pertama kali aku coba kemarin, yang rasanya belum begitu familiar dengan
lidahku. Yup, Chai Tea Latte. I ordered that because he recommended me to.
Setengah jam telah berlalu setelah aku duduk
dipojok favoritku, tempat yang sama dengan tempat aku dan Nathan bercengkrama
kemarin. Namun Nathan masih belum muncul juga. Waktu terus berlalu hingga angka
jam digital diponselku menunjukkan pukul setengah lima.
Sejenak, keraguan mulai merasukiku. Apakah dia
lupa? Apakah Nathan hanya mempermainkanku? Apakah dia tahu kalau aku ini tipe
perempuan lemah yang mungkin terlihat seperti mudah jatuh cinta? Apakah semua
ini hanya efek dari modus terselubungnya? Apakah dia hanya mau menyakitiku? Aku
berusaha menepis semua pikiran burukku tentang Nathan kala logika dan hatiku
sibuk berperang.
Tiba-tiba, seorang wanita yang kukenali sebagai salah satu
pelayan kafe itu menghampiri mejaku. “Loh, mbak ngapain masih disini?”
tanyanya. Aku melongo kebingungan, alisku tertaut. “Maksudnya?” tanyaku pada
perempuan itu.
“Mbak nggak tahu, ya?”
“Nggak tahu apa?”
Pelayan itu terlihat tidak yakin dengan jawabanku. “Tadi
siang, mas yang kemarin disini sama mbak itu kesini kira-kira satu jam sebelum
si mbak sampai disini, dia bawa kertas ini, dia titipin sama saya soalnya dia
ada urusan sebentar dan akan balik lagi kesini nanti.” Katanya sambil
menyodorkan sebuah map padaku. “Awalnya saya mau kasih sama si mbak, tapi saya
nggak enak. Soalnya, setelah dia keluar dari kafe ini, mas itu tertabrak mobil
pengantar barang. Si mas itu langsung dibawa kerumah sakit kok, mbak” lanjut
wanita itu yang langsung membuat mataku terbelalak.
“APA? NATHAN KECELAKAAN?!” pekikku panik tanpa
memperdulikan orang-orang yang kini menatapku. Pelayan itu mengangguk pelan dan
ragu. “Si mbak nya jangan kalut, tadi kayaknya saya dengar si mas itu dibawa
kerumah sakit terdekat dari sini” ucap wanita itu dilanjutkan dengan
menyebutkan sebuah nama rumah sakit yang kebetulan memang dekat dengan mall
tersebut. “Si mbak, jalan sekarang saja. Mungkin si mas itu butuh keberadaan
mbak disampingnya!” seru pelayan itu menyuruhku bergegas. Kini, ucapannya hanya
kubalas dengan anggukan lesu.
Hatiku seakan telah dilempar dari puncak Semeru
dan hancur menjadi serpihan pasir. Entah mengapa, aku merasakan mataku semakin
panas. Tapi tidak, aku tidak boleh menangis. Aku adalah perempuan yang kuat,
aku tegar. Aku pantang menangis, ulangku pada diri sendiri.
Aku memasuki sebuah taksi dan menyebutkan tujuanku pada
sang sopir. Aku masih berusaha menahan tangisku meledak. Aku teringat kembali
dengan map cokelat yang katanya merupakan titipan Nathan untukku. Aku membuka
lilitan talinya dan terkejut dengan isi map itu. Ada beberapa lembar foto dan
sebuah lipatan kertas hvs putih yang penuh dengan tulisan. Anehnya, semua objek
foto-foto tersebut adalah aku. Aku dengan semua ekspresi yang pernah
kutunjukkan pada dunia. Aku dan pojok favoritku di kafe favoritku.
How did he get all
these pictures, batinku. Karena penasaran, aku membuka lipatan kertas itu
perlahan. Tanpa menunggu lama, air mataku yang tadinya berusaha kutahan
mati-matian mengalir saat membaca deretan kata yang telah dirangkai dan ditulis
oleh Nathan.
Hai Martha Abigail,
Saya senang karena akhirnya saya bisa mengetahui
namamu. Seperti tebakan saya, namamu pasti semanis dirimu. Mungkin, setelah
kamu membaca surat ini, kamu bisa saja menjauhi saya karena merasa saya
hanyalah seorang penggemar rahasia gila yang memiliki obsesi konyol pada
seorang perempuan yang jelas-jelas tak akan pernah mau mengenalnya. Kamu punya
hak untuk menjauhi saya setelah kamu membaca surat ini. Tapi sebelum hal itu
terjadi, ada beberapa hal yang perlu saya sampaikan.
Saya telah jatuh cinta padamu semenjak tiga
tahun lalu. Saya jatuh cinta pada perempuan yang dulu pernah secara tidak
sengaja menumpahkan sedikit kopinya pada kemeja saya. Saya jatuh cinta pada
perempuan yang menatap saya sinis saat saya menduduki tempat favoritnya. Saya
jatuh cinta pada perempuan yang sepertinya selalu tenggelam dalam imajinasinya
sendiri saat sedang sibuk berhadapan dengan laptop maupun buku catatannya. Saya
jatuh cinta pada perempuan yang akan selalu nyengir dan bukan tersenyum centil
saat ada seseorang menyapanya. Saya jatuh cinta pada perempuan yang suka
diam-diam melantunkan lagu-lagu Oasis yang mungkin ganjil bagi sebagian orang.
Suaramu bagus, Martha. Kamu perlu tahu itu.
Saya jatuh cinta pada perempuan yang selalu
kesal kalau signal ponselnya mendadak memburuk. Saya jatuh cinta pada perempuan
yang selalu berdandan sederhana namun tetap tahu bagaimana cara agar terlihat
istimewa namun tidak pasaran maupun murahan. Saya jatuh cinta pada satu-satunya
perempuan yang pernah menawarkan cinnamon roll pada saya. Saya jatuh cinta pada
satu-satunya perempuan yang tahu kalau saya juga menyukai fotografi. Saya jatuh
cinta pada perempuan pertama yang memuji hasil karya saya. Berikut ini adalah
foto perempuan itu. Saya mengakuinya. Saya mencintaimu Martha. That’s all what
you need to know. Maafkan saya kalau saya memang terkesan layaknya penguntit.
Memang selama ini saya hanya sanggup mengamatimu dari jauh. Saya hanya tidak
mau mengusikmu. Saya bersyukur karena akhirnya Tuhan mengizinkan saya agar bisa
mengenalmu lebih dalam. Saya bersyukur karena akhirnya kesempatan itu datang.
Semua memang butuh waktu. Saya tahu itu. Kalaupun nanti kamu malah menjauhi
saya karena status saya, saya sudah siap untuk menerima keputusannya. Bahkan jikalau
kedepannya Tuhan mengizinkan saya untuk bisa mengenalmu lebih jauh, saya
berjanji akan selalu ada untukmu dan tetap mencintaimu, hingga nafas terakhir
saya berlalu.
Tertanda,
Austin Nathaniel Gerard a.k.a Austin Gerard
Aku sangat terkejut karena ditengah-tengah semua hal yang
menurutku sangat kacau, ditengah semua masalah yang datang dan pergi dalam
kehidupanku, ternyata ada seseorang yang mengenal aku nyaris sedalam aku
mengenali diriku sendiri. Ada orang yang telah ditakdirkan untuk selalu ada
untukku. Ada orang yang telah ditakdirkan
untuk mengajarkan makna cinta yang sesungguhnya. Orang itupun bukan orang
sembarangan. Nama seorang Austin N. Gerard bukanlah nama biasa-biasa saja. Jujur,
aku sudah sering mendengar nama itu diberita maupun membacanya
diartikel-artikel online. Terbukti, Nathan bukanlah orang biasa. Dari semua
berita tentang Nathan yang mungkin sedikit tersangkut didalam otaknya, Nathan
merupakan salah satu pewaris sebuah perusahaan yang sedang naik daun.
Tepat setelah aku selesai membaca surat dari
Nathan, taksi yang kutumpangi tiba disebuah pintu UGD salah satu rumah sakit. Tanpa
meminta kembalian, akuberlari memasuki pintu masuk ruang UGD yang besar dan
bercat putih.
Aku mengedarkan pandanganku. Berusaha menemukan
Nathan. Mungkin dengan cara yang sama seperti cara dia menemukanku dulu. Tapi
aku tidak menemukan dia. “Sus, disini kenapa nggak ada pasien yang bernama
Austin Nathaniel Gerard, ya?” Tanyaku agak waswas saat menyebutkan marga
Nathan. Nanti aku dikira macam-macam, lagi.
“Ohh, keluarga Gerard memindahkan dia kekamar
VIP lantai tiga puluh delapan, mbak” balas suster itu. Tanpa menunggu lama, aku
berjalan menuju lift, masuk kedalamnya dan dengan hati yang sangat kalut saat
itu, aku memencet tombol bertuliskan angka laknat, angka lantai tempat Nathan
berada. Aku sedikit lega karena Nathan ternyata masih hidup. Hanya saja, aku
tidak bisa menebak bagaimana kondisinya sekarang.
Begitu lift terbuka, disanalah aku melihat
semuanya.
Nathan sedang berbaring diatas sebuah kasur
rumah sakit. Kepalanya diperban dan tangannya digips. Kondisinya cukup
mengenaskan dan lumayan mengiris hati. Namun disana dia tidak sendirian. Ada
seorang wanita paruh baya sedang duduk disampingnya. Keduanya sedang tersenyum
dan mereka mirip. Instingku spontan menyimpulkan kalau itulah ibunda Nathan.
Wanita yang telah berhasil membesarkan anaknya menjadi sesosok pria yang pasti
diidam-idamkan oleh setiap kaum hawa normal lainnya.
Sepertinya semesta mengetahui pikiranku. Saat
aku masih berdiri terpaku didepan lift, Nathan menoleh kearahku. Dia terlihat
sedikit terkejut, namun dia berhasil mengusir keterkejutannya dan memberi
sebuah senyuman manis yang membuat perasaan khawatirku luruh. Tanpa perlu
ditanyakan, gemuruh degup jantung yang semakin menjadi-jadi akhirnya mulai
terdengar.
Layaknya dua kutub magnet berlawanan yang memang
telah ditakdirkan untuk saling menempel jika bertemu, kakiku melangkah
mendekatinya. Aku melihat Nathan melirik ibunya pelan. Dia mendapati sebuah
senyum haru dan rona bahagia dari ibunya. Senyumnya terlihat semakin merekah.
Lagi-lagi, senyum itu yang menghilangkan semua hal negatif dari hati dan
pikiranku.
“Kamu datang” ucapnya grogi. Aku mengangguk. Tak
dapat disangkal, senyumku menunjukkan dirinya. “You already knew that I’ll always be near you, right? So here I am, Nath” balasku pelan.
“You’ve
read my letter, haven’t you?”
Lagi-lagi aku hanya sanggup menganggu. Bahkan,
dalam kondisi seperti inipun, Nathan masih sanggup membisukanku dengan
pesonanya. Nathan menarik nafas berat lalu membuangnya perlahan. “Kamu sudah
baca semuanya, kan? Kamu sudah tahu semuanya. Bahkan, kamu sudah tahu siapa saya.
Kalaupun kamu merasa perempuan yang terlalu istimewa sepertimu tidak pantas
bersama seseorang seperti saya, kamu punya pilihan itu, kamu berhak
meninggalkan saya” tuturnya pelan yang langsung membuat mataku terbelalak
melotot tak percaya.
“Ih, apa sih kamu kenapa ngomong begitu? Aku
baru sampai begini udah ngusir aja, ya” protesku sambil memonyongkan bibir.
Jujur, aku memang kesal karena perkataannya. Ngapain juga dia harus insecure begitu. Kalaupun disini ada
yang harus insecure, orang itu jelas
adalah aku, kan?
Nathan tersenyum geli mendengar ucapanku yang
sepertinya terdengar bagai perkataan orang ngos-ngosan yang habis disuruh lari
seratus putaran mengitari GBK. Entah mengapa, tiba-tiba aku menggenggam tangan
kanan Nathan dan mengatakan kata-kata yang membungkamnya kira-kira lima menit. “Even if I knew that I do have the options to
leave and I could simply choose that, do I really have to go? Did you also want
me to leave? I know none of us expected so.”
Nathan tak mengucapkan sepatah katapun, dia
hanya menarikku mendekat, merangkulku dalam dekapannya. Disaat yang sama, aku
merasa aman, aku merasa nyaman, aku merasa aku dicintai, aku merasa semua
ketakutanku akan kesendirian akhirnya seluruhnya telah hilang, aku merasa semua
hal ini kekal, infinite, abadi, indah, ya begitu lah.
“Oiya, maaf ya Nath, soal kopi yang waktu itu
aku tumpahin di…” perkataanku terhenti karena Nathan sudah lebih dulu
meletakkan jari telunjuknya dibibirku. Dia tersenyum merespon perkataanku. “Mam,
daritadi aku belum kenalin mami ke Martha” ucapnya sambil tersenyum bahagia
kearah wanita yang tadi memang sudah kutebak sebagai ibunya. Wanita itu
tersenyum lebih bahagia menatap Nathan dan aku. “Ini Martha Abigail mam. Pacar
aku!” serunya bahagia yang langsung membuat lututku lemas, jantungku semakin
bermain drum dan lidahku kelu, lagi. Ibunda Nathan menghampiriku dan memelukku.
Everything makes me feel like home, recently.
“Sejak kapan, ya?” bisikku didekat telinganya. “Sejak
barusan aku ngomong begitu!” balasnya sambil menunjukkan cengiran yang mungkin
sedikit mirip dengan milikku. “Eh, kamu bawain Chai Tea Latte itu buat aku, ya?”
Tanya Nathan yang masih merangkulku yang masih terkejut namun bahagia luar
biasa.
“Enak aja, ini tadi aku beli waktu aku nunggu kamu
tahu!” protesku sambil menarik kembali gelas plastik berisi Chai Tea Latte yang
barusan sudah berpindah tangan dari tanganku ketangannya.
“But I
guess, we could simply share it. As
the exact same way we’re gonna share our story from now on, aren’t we?”
ucapku sambil menyodorkan gelas Chai Tea Latte pada Nathan, membuat senyumnya
lagi-lagi merekah. “Sama seperti kita akan membagi pojok favorit kita dikafe,
kan?” tanyanya menggodaku. Hih, sepertinya dia sudah mengetahui kelemahanku.
Mau tak mau, aku mengangguk malu-malu, sekaligus gemas. “As long as you promise me that you would tell me whenever you want to
take a pic of me, okay!” balasku yang langsung membuatnya tergelak.
Every
once in a while, someone comes into your life and makes you feel very special
without him/her trying hard to do that. They are just doing their stuffs
effortlessly, but all of those effortless behaviors and actions they have done
made some mark in your heart and they opened your eyes if love does exist.
That
someone whom we thought were very different than ourselves, whether physically,
emotionally, financially or whatever. But love never accept any kind of
excuses, when God has allowed it to happen, it eventually happens.
Love
could change you, it could give you the strength to give and spread the love
itself, even encourage you to return the love that someone special has given to
you. We all know that love is not a because but it is a no matter what. It
normally comes when you least expect it. Just take a deep breath, breathe in,
breathe out. Just believe that God has prepared the right person for you, the
one that will love you no matter what. Just dance with God, sooner or maybe
later, God will let the perfect person cuts in.