Sunday, February 9

Nothing's Coincidence....

Mungkin kalian bakalan nanya kenapa judul postku sekarang nothing's coincidence.. Well I could take that. And it's okay... Sebenarnya post ini juga hasil refleksi dari beberapa hal yang aku alami akhir-akhir ini.
Hal-hal yang berkaitan dengan nothing's coincidence yang buat aku sadar kalau semua yang terjadi itu bukan terjadi semata-mata karena kesengajaan atau kebetulan semata. Tapi ya karena Tuhan sudah punya rencana
So there's this guy. We've been together for nearly three years (sekarang sih bukan pacaran atau gimana-gimana... karena kita sama2 admitted that we're not really into relationships lately dan dia belum mau dunianya dengan semua aktivitasnya keganggu dan aku sendiri masih dibawah naungan peraturan orangtua yang selalu sama) He already became more like a family brother to me.
Tapi sifat kita itu beda banget.. Aku yang rada (ehem yaudah jujur aja deh) pecicilan, ekspresif, berantakan, nggak ada feminimnya katanya, cerewet dan masih agak childish (kalo kata dia sih gitu) plus dia yang orangnya teratur, disiplin, tegas, cuek bebek sama segala hal yang menurut dia gak penting plus semua embel-embel lain lah..
Jadi kalo dibilang, dilihat sekilas, kita kayak dua kutub magnet yang benar-benar bertolak belakang. Aku selatan, dia utara. Ujung keujung deh bedanya.

Tapi, secara gak sadar, kemarin-kemarin selama 2 tahun terakhir kita kayaknya sama-sama lupa kalau kutub magnet yang berlawanan toh malah akan tarik menarik, bikin kedua sisinya makin nempel.
Tahun pertama kita lewatin bareng-bareng, fine, we survived. Tapi sejak tahun kedua, kita pisah kelas. Kita anehnya mulai sibuk sama dunia masing-masing. Kita mulai semakin jauh. Mulai sibuk dengan dunianya masing-masing.

Tapi anehnya, sejak pertengahan tahun lalu disaat kondisi kita harusnya mulai sibuk dengan pikiran dan jalan masing-masing, malah banyak sekali hal-hal terjadi yang menyangkutkan kita berdua. Situasinya memang berbeda. Tapi peran kita nyaris selalu sama.

Kamu yang selalu ada buatku untuk menjagaku, melindungiku, memarahiku saat ulahku mungkin mulai kelewatan dan membantuku.
Aku yang selalu ada untuk menarikmu keluar dari cangkangmu, membuatmu lebih lepas dan bisa berinteraksi dengan dunia luar, membuatmu percaya kalau semua orang itu butuh teman dan ada untukmu saat kamu jatuh.

Kebiasaan kita yang unik, yang ternyata dari dulu sampai sekarang, kita memang saling melengkapi, sungguh-sungguh melengkapi dan selalu ada buat satu sama lain. Aneh memang. Aku sendiri bingung..
Kenapa dari sekian banyak orang-orang didunia, cuma kamu orang yang sebenarnya pengen kuhindarin tapi sayangnya kamu yang selalu ada buatku.

Kamu yang muncul disaat aku sedih, kamu yang cuek itu yang selalu lewat kalau aku lagi bete. Anehnya lagi, cuma karena kamu lewat begitu, moodku bisa langsung baik. Aneh kan. Memang-__-"
Anehnya juga, kenapa aku bisa spontan tahu kapan kamu lagi sedih atau lagi down, kenapa juga aku selalu tergerak harus buat kamu bisa tersenyum walaupun kamu senyumnya ya setahun sekali.
Kenapa aku nggak bisa ninggalin kamu sendirian gitu padahal kamu sendiri prefer buat tinggal dalam kesendirianmu itu.
Kenapa kamu yang mengaku gak suka bantu-bantuin orang dan berpikir kalau semua orang bisa hidup dalam caranya masing-masing tanpa butuh bantuan apapun nggak pernah kayaknya kamu biarin aku jalanin hidupku sendiri? kenapa malah kamu selalu bantu aku? bukannya aku nggak berterimakasih sama kamu sih, tapi kan kayaknya malah cuma karena demi satu sama lain, kita berdua entah sama-sama sadar atau nggak, kita berdua sama-sama nggak mau satu sama lain kesusahan...

Akhirnya sekarang aku sadar, mungkin ini takdir kita.
Aku percaya Tuhan punya rencana indah buat semuanya.
Memang aku masih nggak paham kenapa Tuhan bisa bikin aku yang biasanya pasti ngomel besar kalo ada orang yang berusaha naklukin egoku dengan bantuin aku terus, malah bisa mengalah sama kamu. Aku nggak paham kenapa Tuhan milih aku yang cerewet ini bisa berhenti ngoceh setiap ada kamu, mulai kalem dan nggak mau berhenti percaya kalau dibalik sikapmu yang unpredictable itu, kamu sebenarnya baik banget.
Aku masih nggak paham kenapa kamu yang Tuhan pilih buat selamatin aku disungai, kamu yang tolongin aku diuks, kamu yang ngomelin aku kalau aku sakit atau telat makan, kamu yang cuma mau ngomong kayaknya sih satu kata sehari tapi masih mau jawab semua pertanyaanku.
Aku masih nggak paham kenapa aku bisa sekuat ini mendukungmu, sekuat ini percaya kalau kamu bisa jadi dokter terhebat yang paling aku kenal, aku percaya sekuat ini juga kalau mereka yang pernah menghinamu itu suatu saat akan melihat kalau kamu memang salah satu dari deretan lelaki terbaik yang kukenal selain opaku dan papaku,yang anehnya mempunyai nama panggilan yang sama denganmu.
Aku nggak paham kenapa kamu maksa banget buat pinjemin aku jaket, pinjemin aku catetan math sama buku lesmu dulu, kamu maksa banget nyuruh aku makan waktu aku sakit tenggorokan pas kelas 10, kamu maksa banget buat ngatain aku pendek, maksa banget juga supaya aku bisa ikut kamu pulang setelah misa.
Aku masih nggak paham juga, kenapa disaat retret kemarin, waktu ada suatu hal yang buat aku sedih, kenapa kamu yang pertama kali kulihat sedang menatap kearahku tanpa suara dan tanpa ekspresi. Aku tak paham kenapa kamu langsung buru-buru buang muka setelah aku menangkap basah kamu lagi liatin aku disana.
Kenapa juga diantara sekian banyak anak yang ikut retret yang bisa kamu minta tolongin oper bible, kenapa kamu malah nyuruhnya aku?
Kenapa juga segala hal yang menyangkut kamu itu selalu ada kaitannya sama aku... Kenapa kita harus sama-sama ngidam masuk Universitas Indonesia? Kenapa ya aku berasa setiap aku ada info tentang UI, atau camaba UI ya segalanya, aku gaboleh izinin kamu kehilangan info yang sama? aku gakmau kamu kehilangan kesempatan yang sama.
Kenapa juga dari semua kampus swasta yang bisa dipilih buat jadi back up plan kuliah, kenapa kita sama-sama harus daftar dikampus yang sama, test ditempat yang sama, ruangan sebelahan, waktu yang sama tapi kenapa Tuhan bikin aku diterima sedangkan kamu tidak? kenapa aku galau ngedown banget waktu tau kamu nggak keterima padahal kan kamu bukan siapa2ku juga.
 KAN ANEH-___-


breathe steph breathe.... tenang......
mau gak mau sih sekarang aku harus percaya kalauu Tuhan pasti punya rencana dibalik semua ini.... Tuhan pasti punya tujuan atas cerita kita. Aku berharap semoga cerita kita bisa menjadi berkat buat semua orang dan memuliakan nama Tuhan.

Selamat tidur kamu yang disana yang sudah menginspirasi tulisan (rada nggak jelas) kali ini.
I love you. Sleep tight. God bless you...
Thanks for being such an awesome brother yet fake father to me :)


xoxo
Steph






p.s I'll probably write more about this guy or even our story soonnnnn once I had the time to be available online, I'd really like to share further information about me and my life lately.... Bye lovessssss :)

No comments:

Post a Comment